oleh

Carut Marutnya Sisa Harta Peninggalan Kesultanan Kota Pinang Labuan Batu Selatan

-Headline-112 views

NASIONALXPOS.CO.ID, LABUAN BATU – Ketika masa kejayaan kerajaan Kota Pinang Labuan Batu Sumatera Utara yang dipimpin langsung oleh Raja Tengku Ismail bergelar yang Dipertuan Sakti, Kota Pinang kian dikenal. Bahkan wilayah kekuasaanya sampai ke perbatasan Selat Malaka. Masa keemasan itu cukup lama bertahan, yakni dari tahun 1873 sampai 1893. Dimana saat itu Tengku ismail memiliki 5 anak yakni 3 putra dan 2 putri, putra pertama bernama Tengku Musthafa bergelar yang Dipertuan Makmur perkasa alamsyah, putra kedua bernama Tengku Makmoen Alrasyid yang bergelar Tengku Pangeran, putra ketiga Tengku Alangsyarif, Tengku Zubaedah dan yang terakhir Tengku Cantik.

Saat Tengku Ismail wafat, meninggalkan seorang istri dan 5 anak kemudian harta benda serta puluhan ribu meter persegi tanah milik Almarhum Tengku Ismail Kesultanan Kota Pinang. Dimana saat itu Tengku Musthafa berusia 12 tahun langsung dinobatkan oleh tokoh-tokoh Melayu untuk memangku tampuk kepemimpinan Kesultanan Kota Pinang.

Meski dalam usia mudanya Tengku Musthafa mampu memimpin Kesultanan Kota Pinang serta mempertahankan teritorialnya. Tengku Musthafa memiliki anak 11 orang dari 5 istri yakni diantaranya anak pertama Tengku Long, anak kedua Tengku Besar, anak ketiga Tengku Maun, anak ke empat Tengku Amran, anak ke lima Tengku Elnizar, anak ke enam Tengku Musnillah, anak ke tujuh Tengku Azhar, anak ke delapan Tengku Djalal, anak ke sembilan Tengku Nizam, anak ke sepuluh Tengku Len dan yang terakhir Tengku Mahdewa.

Sementara itu Tengku Pangeran memiliki 9 anak dari 1 istri yakni anak pertama Tengku Syahnuddin, anak kedua Tengku Hanif, anak ketiga Tengku Hermaya, anak keempat Tengku Saffina, anak kelima Tengkuh Tati, anak keenam Tengku Abdul manan, anak ketujuh Tengku Darmansah, anak kedelapan Tengku Yohani, anak kesembilan Tengkuh Mahnun.

Disisi lain, Tengku Zubaedah hanya memiliki 1 anak yakni Tengku Zannah. Dari rumpun keturunan Tengku Besar lahirlah seorang anak yang bernama Tengku Aizusthafa.

Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun yang sama Negeri ini mengalami gejolak dalam hal ini terjadilah revolusi sosial dimana saat itu pemimpin Kesultanan Kota Pinang Tengku Musthafa bersama anaknya Tengku Besar menjadi korban brutal oleh masyarakat sekitar yang akhirnya terjadi pembunuhan Sultan Tengku Musthafa bersama anaknya, tidak hanya itu saja keluarga besar Kesultanan pun hijrah ke daerah lain untuk mencari keselamatan.

Dalam situasi keamanan tak menentu, Istana Kota Pinang dikuasai rakyat, harta dijarah, istana dirusak, sebagian tanah dikuasai.

Menurut keterangan sumber yang masih hidup, yakni H. Bunyamin sebagai nazir Masjid Raya Kesultanan Kota Pinang mengatakan pada wartawan, “Penobatan Tengku Musthafa sebagai Sultan Kota Pinang, saat itu dilaksanakan oleh Datuk tokoh melayu yang juga masih kakek H. bunyamin,” pungkasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kab. Labuhan Batu mengeluarkan Surat Keputusan melalui secretariat daerah yang bernomor 593/2D/ TST/2004“Sebagian besar tanah-tanah milik Kesultanan Kota Pinang sudah terjadi peralihan, diantaranya : 1. Pendopo dan lapangan bola kaki seluas 15.000 M2, 2. Kantor Cabang Dinas Pendidikan seluas 846,56 M2, 3. Kantor Cabang Dinas Kehutanan seluas 720 M2, 4. Sekolah Dasar Negeri 118235 seluas 1.309,5 M2, 5. SD Negeri 112224 seluas 2.926 M2, 6. Pasar Pagi seluas 10.000 M2, 7. SMPN 1 Kota Pinang seluas 7.920 M2, 8. Kantor Kejaksaan Negeri dan 1 Unit Rumah Dinas seluas 3.000 M2, 9. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) seluas 5.000 M2, 10. Kantor Koramil berikut perumahan seluas 3.600 M2, 11. Kantor Kelurahan Kota Pinang berikut rumah seluas 697,50 M2, 12.

KUA Pinang seluas 1.430 M2, 13. SDN 112243 seluas 2. 404 M2, 14. Perumahan pegawai kantor camat termasuk gedung PKK seluas 1. 522 M2, 15. Rumah Dinas Pegawai Kantor Camat Kota Pinang sluas 3.330 M2,” dari data tersebut diatas pihak Pemkab Labuan Batu Selatan mempertanyakan serta ingin member ganti rugi kepada ahli waris Kesultanan Kota Pinang, namun setelah diadakannya dengar pendapat oleh DPRD Kota Pinang / Komisi A yang hadir hanya beberapa ahli waris saja, meski dari keterangan diatas telah terbukti masih banyak ahli waris Kesultanan yang belum hadir ketika dengar pendapat.

Diantaranya rumpun keturunan Tengku Makmun Alrasyid gelar Tengku Pangeran Kesultanan Kota Pinang kemudian dari rumpun keturunan Tengku Zubaedahpun tidak hadir. Disisi lain salah satu ahli waris dari rumpun keturunan Tengku Pangeran yang berada di Jakarta Tengku Syarifullah mengatakan kepada wartawan belum lama ini “kami selaku ahli waris Kesultanan Kota Pinang tidak pernah diundang oleh pihak Pemkab Labuan Batu Selatan” ujarnya pada NX.

Masih menurutnya bila faktanya demikian saya tidak segan-segan akan menindaklanjuti kasus ini sampai ke Ombusman sebab dana ganti rugi yang akan dikucurkan diambil dari APBD tukas Syarifullah pada NX. (H.Panjaitan)

Komentar

NEWS UPDATE