oleh

Kurangnya Kapal, Aktivitas Masyarakat Kecamatan Marore Terhambat

NASIONALXPOS.CO.ID, Sangihe – Keberadaan kapal perintis yang melayani rute sejumlah pulau di Kabupaten Kepulauan Sangihe termasuk Kecamatan Marore yang berada di Perbatasan Indonesia dan Philipina terasa kurang maksimal.

Hal itu disebabkan berbagai faktor, antara lain, jadwal pelayaran dua minggu sekali dan hanya di layani oleh satu kapal pelni, sehingga masyarakat dari kepulauan yang ingin berpergian ke Kota Kabupaten Tahuna merasa kesulitan, baik dalam pekerjaan maupun keperluan lainya.

Ever R, pegawai Kantor Kecamatan Marore mengungkapkan bahwasannya akhir-akhir ini masyarakat agak kesulitan terhadap transportasi laut, karena kapal perintis yang dulunya dua armada kini tersisa satu untuk melayani rute Kepulauan Marore dan beberapa pulau lainya.

Sementara itu, Camat Marore Imelda Lawendatu mengatakan bahwa dirinya pun merasakan hal yang sama, “Pengurusan berbagai berkas ataupun urusan lainnya, seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu dua sampai tiga hari, namun karena transportasi kapal perintis yang tidak lancar menyebabkan tertundanya waktu pekerjaan,” ujar Imelda.

“Sekarang ini, kami kembali ke Kecamatan Marore dalam waktu 2 minggu, bahkan lebih tergantung jadwal pelayaran kapal Perintis tersebut. Sedangkan jika kami menggunakan transportasi tradisional atau kapal rakyat panbot, cuaca yang tidak menentu sangat mengkhawatirkan bagi kapal-kapal tradisional,” tambah Imelda.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulaun Sangihe, Frans G. Porawouw S.IP menjelaskan bahwa kapal pelni sedianya ada dua unit yang home basenya Tahuna, namun salah satu sedang dok tahunan atau dalam perbaikan, sehingga seharusnya dua kapal yang saling bergantian melayani Kecamatan Kepulaun Marore hanya tersisa satu unit untuk home base Tahuna.

“Untuk tindak lanjut dari persoalan, ini kami sudah menyurat kepada pihak terkait agar 1 unit kapal perintis yakni Berkat Taloda diganti dan kapal Dalente Woba agar bisa masuk pelabuhan Tahuna, karena selama ini Kapal Dalente Woba masuk Pelabuhan Pananaru, sehingga menimbulkan kesulitan akses bagi masyarakat pelabuhan,” terang Kadis.

Di tempat teripisah, Felix P, warga Kepulauan Marore yang juga putra perbatasan meminta kepada Pemerintah Daerah setempat agar dapat memperhatikan masyarakat pulau perbatasan melalui sarana dan prasarana transportasi lautnya. (Uncet)

Komentar

NEWS UPDATE