oleh

Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI Kecamatan Wanareja.

NASIONALXPOS.CO.ID,CILACAP – Dilaksanajan serentak di seluruh Indonesia upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Begitu juga dengan Kecamatan Wanareja yang melaksanakan upacara tersebu. Bertindak selaku Inspektur Upacara Bintang Dwi Cahyono. AP.MM Camat Wanareja.

Upacara dilaksanakan di alun-alun Kecamatan Wanareja, Sabtu (17/08/2019) yang diikutu Dinas Instansi, Forkompimcam, para guru, TNI / Polri dan oara siswa siswi sekolah.

Dalam sambutanya, Camat Wanareja membacakan sambutan Guberur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Bismillahirohmaanirrohiim.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.Salam sejahtera bagi kita semua,
Om swastiastu, Namp Buddhaya, salam kebajikan.

Jajaran Legiskatif, Eksekutif, Yudikatif, TNI/Polri, para sesepuh Jawa Tengah, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, dunia usaha, Perguruan Tinggi, dan semua peserta Upacar masyarakat Jawa Tengah yang saya banggakan.

Seperti ungkapannya Gus Dur, orang tidak akan bertanya apa Agamamu, apa sukumu ketika berbuat baik. Dalam masa perjuangan setelah kemerdekaan ini sudah semestinya kita tidak membedakan suku, Agama atapun ras.

Tidak peduli warna kulit, rambut, jenis kelamin, kaya ataupun miskin. Semua sama dimata Negara.

Fouding Father bangsa ini telah memberi contoh lewat laku, bukan sekedar gembar gembor persatuan. Mereka berdarah-darah menegakan kemerdekaan. Sebenarnya kita pun mewarisi semangat itu.

Namun kadan kita memupuk borok dalam dada, membuat kita terlena hingga dengan rasa tanpa dosa saling menghina dan mencerca, bahkan ada yang nekad hendak mengganti Pancasila.

Siapa yang mempermasalahkan Agustinus Adisuciptu sebagai Pahlawan ? apakah karena beliau seorang Katolik, lantas yang dari Hindu, Budha, Islam, Kriten dan Kong Hu Chu menggerutu?.

Kemudian Albertus Soegijapranata, beliau merupakan uskup pribumi pertama di Indonesia, bahkan karena Nasionalismenya keras, beliau tidak henti-hentinya menggaungkan semboyan, ” 100% Katolik,
100% Indonesia ” dan ungkapan itu terus berdengung hingga kini.

Lantas mari kita tengok pahlawan dari Budha, yang merupakan saudara kita sendiri dari Banyumas, Letjen Gatot Subroto. Yang tidak kalah penting peranan dalam perjuangan adalah saudara saudara kita dari Tionghoa.

Ada Yap Tjwan Bing lahir pada 31

Oktober 1910 di Solo. Beliau merupakan satu-satunya anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari Tionghoa dan turut hadir dalam pengesahan UUD 1945 dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 18 Agustus 1945.

Ada pula Liem Koen Hian merupakan salah satu anggota dari Badan Penyelidik Usaha – usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), bahkan beliau jadi salah satu inspirator Bung Karno ketika pidato di majelis BPUPKI.

Bahkan beliau jadi salah satu Inspirator Bung Karno ketika pidato di Majelis BPUPKI tentang berdirinya Negara yang tanpa berasaskan Ras maupun Agama.

Dan sepatutnya kita pun berterimakasih pada tokoh keturunan Arab, Faradj Bin Said Bin Awak Martak. Pedagang kelahiran Yaman Selatan ini dengan berani menyediakan rumahnya di Pegangsaan Timur No. 56 sebagai lokasi Proklamasi Kemerdekaan RI.

Lantas siapa yang mempermasalahkan kepahlawananya I Gusti Nugar Rai, Untung Suropati, KH. Ahmad Dahlan, KH.Hasyim Asy’ari ,karena Agamanya,, bibit jiwa kita adalah bibi tepo seliro,, bibit andarbeni, bibit paseduluran.

Pancasila sebagai dasar Republik adalah harga mati.
Tidak bisa ditawar dan harus kita tanam sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi, Pancasila inilah sebagai induk semangnya Negara ini, yang dixalamnya bersemayam ajaran-ajaran Agama: Hindu, Budha , Islam, Katolik, King Huchu, Kristen.

Yang di dalamnya bersemayam

spirit-spirit berasaskan kebudayaan Nusantara.

Kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, toh akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan.

Sejarah mencatat, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 sistem pemerintahan sempat berganti menjadi Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1945,

Namun akhirnya sejak 17 Agustus 1950, Tanah Air ini kembali tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Repoblik Indonesia

Tanah Air ini kembali tegak berdiri sebagai

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kekal abadi

Bung Karno mengatakan, ” Jikalu saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkatakan, Indonesia yang tulen yaitu perkataan.

Indonesia yang tulen yaitu perkataan GOTONG – ROYONG. Gotong Royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu binantu bersama.

Amal semua buat kepentingan

semua, keringat semua buat kebahagiaan bersama. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan

bersama!”.

Tekad kebersamaan, senasib sepenanggungan inilah yang terus kita emban untuk menghadapi jaman.

Sejak dilahirkan Indonesia mendapat berbagai tantangan dan persoalan berat, mulai dari seringnya bencana alam, korupsi, konflik sosial, gerakan sparatisme.

Belum lagi tabtangan modernisasi yang bergerak seiring dentang jam. Jangan lagi ada niatan mengganti ideologi bangsa, jangan lagi ada ungkapan ” Ah kamu Batak, ah kamu Irian, ah kamu Bugis, ah kamu Sunda, ah kamu Madura, ah kamu Jawa, jangan lagi ada.

Perbincangan kita harus melompat jauh kedepan.
Bangsa Cinda dan India telah bergerak menuju Bulan. Bangsa Amerika telah bersiap membangun perumahan di Mars, meski saat ini kita belum mampu, jangan biarkan anak-anak kita hanya jadi penonton atas keberhasilan bangsa lain.

Kita siapkan mereja saat ini, kita bekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan semangat toleran, agar mereka juga bisa sampai ke Bulan, MareS dan Galaksi lainya.

Kitalah yang menanggung disa besar jika mereka tertinggal, kitalah yang menanggung dosa besar jija mereja dilecehkan.

Gold geberation harus benar-benar tercipta di tahun 2040, 20 tahun lagi. Mulai sekarang segala daya upaya, tenaga dan pikiran jiwa dan raga, kita kerahkan untuk masa depan cemerlang anak-anak kita.

Kita rebut kembali kejayaan Majapahit,
yang mampu ekspansi ke bagian bumi di Utara.

Anak-anak kita harus jadi arus besar perubahan yang meluncur ke Utara ke seluruh bagian di penjuru duni. Inilah saatnya kita kirim arus balik, setelah sekian lama kita diterpa berbagai kemajuan dari belahan bmu lain.

Wahai pemuda, persiapkan mental dan akalmu. Jangan melempem akalmu. Jangan berhadapan dengan bangsa lain, jangan lembek ketika ada yang mengejek.

Kepalkan tekadmu, bulatkan semangatmu. Saudara-saudaraku, semua hal itu akan mampu kita hadapi dengan satu senjata, dengan kebersamaan, Persatuan Indonesia. Kita ini diciptakan atas satu jalinan sebagai sapu lidi, yang jika dilepas ikatanya ambyar kebangsaan kita, ambyar negara kita, ambyar Inndonesia Raya.

Sejarah telah mengikat kuat kita,

perasaan senasib sepenanggungan telah menyatukan kita, dan Pancasila telah mendasari kita sebagai bangsa dan Negara yang besar.

Sebagai petugas Upacara : Camat Wanareja Bintang Dwi Cahyono (Inspektur Upacara), Komandan Cadangan Inspektur Upacara AKP. Sutejo. SH, Ipda. Warso (Perwira Upacara), Pelda. Bagyo Rahmat (Cadangan perwira Upacara), Serka. Paimun (komadan upacara), Letda. Tatang Tri. S. (Anggota Kompi Senapan C 405), Daryono.S.Pd MPd. Anggota DPRD Cilacap (pembaca UUD 1945), Bimo Suci Hartadi. S.IP dan Damayanti.M.Pdi (Protokol). (Junaedi)

Komentar

NEWS UPDATE