oleh

Kualitas Batik Gumelem Banjarnegara Tidak Kalah Dengan Batik Pekalongan dan Solo

NASIONALXPOS.CO.ID,BANJARNEGARA– Wakik Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengunjungi pengrajin Batik di Banjarnegara yankni di Desa Gumemel. Wagub mengunjungi dua pengrajin batik yang diketahui milik Sartinem dan Ngisriah, Minggu (06/10/2019).

Desa Gumelem termasuk wilayah Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Ada beberapa pengrajin Batik disana, meski sudah lama keberadaanya namun batik Banjarnegara tidak setenar batik Pekalongan maupun Solo.

Ngisriah menyampaikan kepada Wakil Gubernur, sebagian besar pengrajin batik disini dalam pemasaranya masih menggunakan cara-cara tradisional, dari perbinyangan antar konsumen dan para pedagang, ” sementara dari Dinas kurang tanggap dengan kondisi ini, padahal kita ingin mempertahan kan batik Banjarnegara ” kata Ngisriah.

Lebih jauh Ngisriah berharap agar Batik Gumelem kedepanya bisa tenar seperti Batik Pekalongan dan Solo, sebab dari segi kualitas bahan dan mitifnya tidak kalah, beber dia.

“Warna batik gumelem khasnya warna klasik. Tapi konsumen tinggal pilih, mau yang klasik atau modern. Ciri khas warnanya didominasi coklat, hitam dan kuning. Motifnya berbeda dengan daerah lain. Seperti cebong kumpul, blabagan dan gabah sarungging,” jelasnya.

Perajin yang sudah menekuni batik tulis selama puluhan tahun itu juga menyampaikan soal kesulitan mendapat modal. Dia tidak memiliki barang yang bisa dijaminkan ke bank untuk mendapat pembiayaan.

Mendengar kendala soal permodalan, Wagub yang akrab disapa Gus Yasin menginformasikan, pengusaha kecil di Jawa Tengah bisa mengajukan pembiayaan di Bank Jateng. Pengusaha kecil dapat mengajukan pembiayaan hingga Rp20 juta tanpa agunan.

Lebih lanjut, Gus Yasin mengaku miris dengan kondisi perajin batik di Gumelem Kulon. Sebab, perajin batik di daerah lain di Jawa Tengah rata-rata sudah maju.

“Di sini kondisi perajin batiknya masih di bawah rata-rata. Bahkan yang memroduksi saja, kondisinya masih seperti itu (sangat sederhana). Maka saya harapkan dari potensi yang ada, bisa kita pasarkan bersama-sama,” pintanya.

Program Satu SKPD Satu Desa Binaan, imbuhnya, juga termasuk memberdayakan dan memromosikan potensi desa yang menjadi binaannya. Tidak sekadar membangun RTLH dan jambanisasi.

“Inilah manfaatnya kita bikin program Satu SKPD Satu Desa Binaan. Sehingga bisa kita lihat, kita potret, kita temukan, apa sih yang dimiliki desa yang kita bina. Bukan hanya mengentaskan RTLH, bukan hanya jambanisasi, tapi bagaimana kita membantu memasarkan potensi/ produk yang ada, sehingga bisa terangkat semua,” tutupnya. (Junaedi)

Foto : Istimewa Dari Humas Pemprov Jateng

Komentar

NEWS UPDATE