Daerah

Jambi Siap Jadi Pionir Ekonomi Hijau dan Penurunan Emisi Nasional

16
×

Jambi Siap Jadi Pionir Ekonomi Hijau dan Penurunan Emisi Nasional

Sebarkan artikel ini

NASIONALXPOS.CO.ID, JAMBI – Pemerintah Provinsi Jambi menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan rendah emisi dan ekonomi hijau melalui Program BioCF ISFL (BioCarbon Fund Initiative for Sustainable Forest Landscapes). Komitmen tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jambi, Abdullah Sani saat menghadiri closing meeting fase pra-investasi Program BioCF ISFL Tahun Anggaran 2022–2026 di Swiss-Belhotel, Jambi, Senin (04/05/2026).

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kepala Bappeda Provinsi Jambi Agus Sunaryo, Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH Ary Sudijanto, Direktur Perhimpunan dan Pengembangan Dana BPD LH RI Endah Tri Kurniawaty, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLH Haruki Agustina, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Program BioCF ISFL merupakan inisiatif global yang bertujuan menekan emisi akibat deforestasi dan degradasi hutan (REDD+), sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau berbasis tata kelola lahan berkelanjutan di Provinsi Jambi.

Mengusung tema “Membangun Paradigma Baru Pertumbuhan Ekonomi Hijau Melalui Pembelajaran Program Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Berbasis Yurisdiksi di Provinsi Jambi”, kegiatan ini menjadi momentum evaluasi sekaligus penguatan arah pembangunan hijau di daerah.

Dalam sambutannya, Wagub Abdullah Sani menyebut Provinsi Jambi memiliki potensi besar sumber daya hutan dan lahan dengan kawasan hutan mencapai lebih dari 2,1 juta hektare, termasuk ekosistem gambut dan mangrove yang strategis bagi keseimbangan lingkungan.

“Namun kita juga menghadapi tantangan deforestasi, degradasi lahan, dan perubahan iklim. Karena itu, pelaksanaan BioCF–ISFL diarahkan untuk mendukung pembangunan rendah emisi yang selaras dengan RPJMD Provinsi Jambi,” ujar Abdullah Sani.

Ia menjelaskan, fase pra-investasi BioCF ISFL di Jambi difokuskan pada penguatan kelembagaan, koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas pemerintah dan masyarakat, hingga penerapan praktik ramah lingkungan pada sektor kehutanan dan pertanian.

Menurutnya, Provinsi Jambi menargetkan penurunan emisi lebih dari 17 juta ton CO₂e selama periode 2021–2025 melalui penguatan sektor kehutanan dan lahan. Jambi juga disebut mengambil peran strategis dalam mendukung target nasional FOLU Net Sink 2030 dengan kontribusi sekitar 10 persen dari target nasional.

“Program BioCF-ISFL menjadi instrumen penting dalam upaya penurunan emisi. Saat ini kita memasuki tahap akhir fase pra-investasi dan bersiap menuju skema pembayaran berbasis kinerja melalui ERPA,” jelasnya.

Abdullah Sani menambahkan, dengan harga karbon sebesar USD 7 per ton CO₂e, Provinsi Jambi berpotensi memperoleh pendapatan hingga USD 70 juta dari skema karbon berbasis hasil.

Ia menegaskan, agenda penurunan emisi dan pengelolaan lanskap berkelanjutan bukan sekadar program sektoral, melainkan telah menjadi bagian integral pembangunan daerah melalui RPJMD dan roadmap ekonomi hijau Provinsi Jambi.

“Jambi siap menjadi contoh bahwa hutan bukan hanya aset lingkungan, tetapi juga sumber kesejahteraan melalui pembayaran berbasis hasil,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Provinsi Jambi, Agus Sunaryo mengatakan fase pra-investasi BioCF ISFL telah memberikan banyak pembelajaran penting bagi pembangunan daerah ke depan.

“Program penurunan emisi akan terus diintegrasikan dalam perencanaan pembangunan daerah yang berorientasi pada ekonomi hijau,” ujar Agus.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemerintah kabupaten/kota untuk menjaga lanskap hutan Jambi sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. (Is)

Tinggalkan Balasan