Saat dikonfirmasi, pihak Umum dan Kepegawaian (Umpeg) Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Dimas, mengaku akan menindaklanjuti temuan tersebut.
“Ya bang, nanti saya tegur,” singkatnya.
AdvertisementScroll kebawah untuk lihat berita lainnya.
Pernyataan tersebut justru memperkuat dugaan bahwa penggunaan botol bekas sebagai wadah sabun bukan insiden sesaat, melainkan telah berlangsung tanpa pengawasan yang memadai.
Sorotan keras datang dari Ali Farham, Ketua DPP Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barisan Perjuangan Rakyat Jelata (BARATA). Ia mengaku miris melihat kondisi tersebut, mengingat besarnya anggaran pemeliharaan yang bersumber dari uang rakyat.
“Logikanya saja, anggaran pemeliharaan lebih dari Rp70 juta, tapi wadah sabun cuci tangan masih pakai botol plastik bekas air mineral. Apakah ini bisa dianggap wajar?” ujar Ali kepada wartawan.
Ali menilai, meskipun secara nominal terlihat kecil, temuan ini justru menjadi indikator awal adanya kejanggalan dalam pengelolaan anggaran.
“Ini bukan soal mahal atau murahnya wadah sabun. Ini soal akal sehat dan transparansi. Kalau urusan sepele saja seperti ini tidak beres, bagaimana dengan mata anggaran lain yang nilainya lebih besar?” tegasnya.







