NASIONALXPOS.CO.ID, BLORA – Dari kandang sederhana berukuran 9 x 12 meter di Desa Dalangan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, lahir sebuah ikhtiar serius membangun kemandirian desa. Melalui unit usaha bebek petelur, mulai menunjukkan peran strategisnya dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Usaha peternakan ini telah berjalan sekitar satu bulan sepuluh hari. Meski masih berada pada tahap awal produksi, ratusan ekor bebek petelur sudah mulai menghasilkan telur sejak sepuluh hari pertama masa perawatan. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha yang bersumber dari Dana Desa (DD) Tahun 2025 tersebut.
Pengelola BUMDes Argo Pangan, Jais, mengatakan saat ini produksi harian mencapai sekitar 130 butir telur dari total 300 ekor bebek. Angka tersebut diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya usia ternak.
“Usia bebek saat ini masih sekitar tujuh bulan. Biasanya produksi optimal terjadi ketika memasuki usia delapan bulan,” ujar Jais saat ditemui di lokasi peternakan.
Untuk menjaga kesehatan ternak dan kualitas telur, pengelola menerapkan sistem pemeliharaan terjadwal. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi pukul 07.00 WIB setelah pengambilan telur dan sore pukul 17.00 WIB.
“Kebersihan kandang, kolam air minum, dan pembuangan kotoran menjadi perhatian utama agar bebek tetap sehat dan produktif,” jelasnya.
Dari sisi kebutuhan pakan, setiap 100 ekor bebek mengonsumsi sekitar 12 kilogram pelet per hari. Dengan total 300 ekor, kebutuhan pakan mencapai 36 kilogram per hari. Selain pelet, bebek juga diberi pakan tambahan berupa daun pepaya dan kangkung dua kali seminggu untuk menunjang nutrisi serta menjaga kualitas telur tetap bersih.
Telur bebek produksi BUMDes Argo Pangan dipasarkan dengan harga Rp2.000 per butir. Penjualan difokuskan terlebih dahulu di lingkungan sekitar desa, termasuk kepada pedagang martabak dengan sistem pembelian per kotak isi 30 butir.
“Selain dijual, kami juga membagikan 10 butir telur kepada masyarakat secara bertahap sebagai bentuk kepedulian sosial dan ramah lingkungan,” ungkap Jais.
Model pemasaran ini tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga memastikan perputaran ekonomi tetap terjadi di tingkat desa serta memperkuat hubungan antara BUMDes dan masyarakat.

Ke depan, unit usaha bebek petelur ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan desa dan membuka peluang usaha turunan lainnya.
“Ini bukan hanya soal hasil hari ini, tetapi investasi jangka panjang. Bebek petelur ini bisa berproduksi hingga sekitar 14 bulan, sehingga setiap hari desa berpeluang panen dan menjual hasilnya,” pungkas Jais.
Dengan pengelolaan bertahap dan terukur, BUMDes Argo Pangan Dalangan optimistis peternakan bebek petelur ini dapat menjadi contoh bagaimana desa mampu mengelola potensi sendiri secara mandiri dan berdaya saing. (Riyan)












