Pendidikan

Cari Tambahan Cuan, SMPN 5 Pasar Kemis Diduga Jual LJK dan LKS

1885
×

Cari Tambahan Cuan, SMPN 5 Pasar Kemis Diduga Jual LJK dan LKS

Sebarkan artikel ini

NASIONALXPOS.CO.ID, KABUPATEN TANGERANG – sejumlah orangtua siswa SMPN 5 Pasar Kemis Kabupaten Tangerang mengeluhkan dugaan transaksional yang terjadi di sekolah.

Berdasarkan pengakuan salahsorang orangtua siswa yang enggan disebutkan namanya, SMPN 5 Pasar Kemis terkesan memaksaan segala bentuk dugaan transaksional yang disinyalir terjadi disekolah tersebut.

“Selaku orangtua yang saya rasakan sepertinya sekolah ini sering mengada – adakan proyek yang terkesan sebenarnya lebih berorientasi mencari keuntungan daripada mendukung pemerataan pendidikan,” ungkap salahsatu orangtua.

Dirinya menganggap, himbauan SMPN 5 Pasar Kemis kepada peserta didiknya untuk membeli lembar jawaban komputer dengan pengkodisian dengan bermacam cara seolah siswa tidak punya alternatif selain membelinya.

“Terus terang saya ragu jika jawaban ulangan harian pada LJK itu benar benar diperiksa dengan menggunakan komputer, yang hanya berisi 40 lembar seharga 18ribu atau Rp. 450 perlembar,” jelasnya.

Ia menilai, harga lembar jawaban komputer yang diduga ada unsur paksaan dalam penjualannya lebih mahal dari biaya fotocopy yang hanya seharga Rp. 300.

“Sebagai perbandingan kertas HVS (berukuran) F4, 80 Gsm harganya hanya sekitar Rp. 55ribu untuk setiap rim atau 500 lembar atau sekitar Rp. 110 untuk setiap lembarnya, kalaupun memang ditambah beberapa elemen cetak harganya masih terbilang tinggi,” Ungkap dia.

Selain terbilang mahal, lembar jawaban komputer tersebut disebutnya bersifat konsumtif, lantaran harus dibeli terus – menerus sehingga dugaan transaksional yang terjadi di SMPN 5 Pasar Kemis semakin tidak masuk diakal.

“Bagi kalangan orang punya duit sih ngga masalah, tapi bagaimana dengan kami yang ekonominya pas pasan,” jelas dia.

Masih menurut dia, Bukan cuma lembar jawaban komputer, lagi lagi sekolah memberikan kebijakan melalui himbauan dan membuat kondisi dimana peserta didik tidak lagi mempunyai alternatif lain selain membeli lembar kerja siswa (LKS) seharga 150ribu untuk 10 mata pelajaran.

“LKS yang sama persis dijual hanya seharga 9ribu untuk satu mata pelajaran di toko buku online di market place, saya yakin sekolah membeli dengan jumlah besar dan harga pokoknya seharusnya bisa jauh lebih murah,” beber dia.

Dengan kondisi tersebut, Ia mempertanyakan kebijakan – kebijakan yang diambil sudah merupakan prosedur standar dari departemen pendidikan dasar menengah nasional dan regional atau hanya akal akalan dari SMPN 5 Pasar Kemis.

“Jika memang itu standar prosedur dari atas tentunya hal itu sedikit banyak akan menghambat misi pemerintah dalam pemerataan pendidikan demi mencerdaskan kehidupan bangsa,” sambungnya.

Ia beranggapan, jika itu adalah kebijakan dari internal SMPN 5 Pasar Kemis, pemerintah kabupaten Tangerang dalam hal ini dinas pendidikan wajib melakukan audit untuk mempertanggungjawabkan penggunaan uang keuntungan yang didapat.

“Mengingat ada margin keuntungan yang cukup besar jika dibandingkan dengan harga dipasaran,” pungkas dia.

Ditemui terpisah, H. Maksum Kepala SMPN 5 Pasar Kemis, tidak membenarkan tudingan yang dinilai mendiskrditikan lembaga pendidikan yang telah dipimpinnya tersebut.

Meski begitu, ia menyebut telah mendapatkan informasi terkait hal itu dan dirinya mengaku telah melakukan klarifikasi kepada dinas pendidikan kabupaten Tangerang.

“Kalau untuk dimintai keterangan oleh dinas pendidikan sudah dan saya siap dipanggil oleh pihak mananapun, karna saya hanya sekedar membantu menawarkan dan tidak ada pemaksaan,” ungkap H. Maksum.

Ia menegaskan, pengadaan lembar kerja siswa adalah murni antara siswa dan penyedia dan dipastikan tidak ada kaitannya dengan sekolah.

“Saya sebagai pejabat publik semua harus dilayani, entah itu masyarakat, wartawan atau LSM termasuk penyedia saya juga harus layani,” ungkap Maksum.

Terkait lembar jawaban komputer, Maksum mengaku hanya sebatas membantu memfasilitasi siswa agar lebih mudah dalam mengerjakan soal – soal ulangan.

“Biasanya pake kertas selembar disobek, kita fasilitasi dengan menggunakan LJK dan itu melalui koprasi yang indenpenden,” ungkap dia. (Red)

Tinggalkan Balasan