Daerah

Di Balik Bendungan Cabean: Ancaman, Mediasi, dan Janji yang Terlupakan

374
×

Di Balik Bendungan Cabean: Ancaman, Mediasi, dan Janji yang Terlupakan

Sebarkan artikel ini
Proses pekerjaan Bendungan Cabean, Todanan, BLORA

NASIONALXPOS.CO.ID, BLORA – Di balik megahnya proyek strategis nasional Bendungan Cabean, tersimpan kisah sunyi perjuangan panjang yang nyaris tak pernah terdengar publik.

Proyek bernilai ratusan miliar rupiah ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan juga menyimpan cerita tentang ancaman, ketakutan, idealisme, serta janji yang perlahan memudar.

Pembangunan Bendungan Cabean yang berlokasi di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, merupakan proyek strategis nasional yang didanai APBN dengan nilai anggaran berkisar Rp499 miliar hingga Rp571 miliar. Namun, jauh sebelum alat berat bekerja, konflik sosial sudah lebih dulu meletup.

Proses awal Detail Engineering Design (DED) dimulai sekitar Mei 2022, saat BBWS Pemali Juana menyusun dokumen pengadaan tanah di Desa Karanganyar dan wilayah Todanan. Penolakan keras pun muncul dari warga terdampak yang khawatir kehilangan lahan pertanian dan mata pencaharian mereka.

Coretan penolakan memenuhi jalan desa. Aksi protes bermunculan. Situasi kian memanas.

Pada Jumat, 1 April 2022, Camat Todanan Dasiran mengambil langkah mediasi dengan mempertemukan Riyan, jurnalis lokal nasionalxpos.co.id, bersama dengan Dian Kustiani dari Konsultan Pengadaan tanah , serta Dewi Shinta Rulisyani selaku PPK Perencanaan dan Program dari BBWS Pemali Juana.

Dari pertemuan itu, Riyan diminta membantu proses pendekatan persuasif kepada warga agar konflik tidak meluas.
Tugas itu bukan tanpa risiko. Bersama beberapa rekannya Fuad, Supri dan Yudi, turun langsung ke lapangan melakukan sosialisasi dari rumah ke rumah.

Salah satu momen paling menegangkan terjadi pada sore hari di bulan Ramadhan 2022. Bersama Dasiran Camat Todanan, Riyan mendatangi rumah warga di Kalisoko untuk melakukan sosialisasi secara persuasif.

Alih-alih sambutan hangat, ancaman justru mereka terima. Ada warga yang mengancam dengan linggis, bahkan menyebut bacok sebagai konsekuensi jika proyek tetap dipaksakan.

Dalam perjalanan pulang, keduanya hanya bisa menghela napas panjang.

“Apa ya Pak nanti yang kita dapatkan? Sampai nyawa kita jadi taruhan,” tanya Riyan kepada Camat Todanan.

“Gak tahu. Yang penting kita berjuang agar daerah kita maju,” jawab Dasiran singkat, namun sarat makna.

Namun upaya tak berhenti. Strategi diubah. Sosialisasi digelar malam hari di Balai Desa Todanan, dipimpin Kepala Desa, Camat Todanan, serta tim konsultan. Dialog mulai terbuka, ketegangan perlahan mereda.

Pasca Lebaran 2022, sosialisasi lanjutan digelar dengan melibatkan Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) Kabupaten Blora. Hasilnya, warga akhirnya menerima pembangunan Bendungan Cabean dengan satu syarat utama: pemulihan mata pencaharian warga terdampak.

Proses pengadaan tanah pun berjalan hingga pembayaran ganti untung dilakukan pada Desember 2025. Kini Bendungan Cabean mulai dikerjakan dan digadang menjadi simbol harapan baru bagi Blora.

Namun di balik beton dan genangan air yang kelak terbentuk, tersimpan kisah sunyi tentang perjuangan tanpa panggung, tanpa sorotan, dan tanpa kepastian janji.

Sebuah cerita tentang keberanian yang nyaris terlupakan. (Red)

Tinggalkan Balasan