“Sampe pusing kita, tadinya saya kira bisa dah nyelesain urusan LKS pake pinjol, sekarang malahan nambah kusut,” ungkap W.
W mengaku, andai saja sekolah tidak mewajibkan peserta didiknya untuk membeli Lembar kerja siswa (LKS) tentunya persoalan pinjaman online yang saat ini menjeratnya tidak akan terjadi.
“Kalau dibilang salah memang kita yang salah, tapi andai sekolah tidak ada LKS atau kas atau iuran serupa pastinya ngga akan kayak gini kita,” kata W seraya menunjukan isi percakapan dengan penagih hutang.
Ia berharap pemerintah kabupaten Tangerang, dalam hal ini dinas pendidikan dapat memberikan solusi atas dugaan penjualan LKS di SMPN 1 Sepatan Timur sehingga beban ekonomi yang saat ini dirasa berat dapat lebih ringan.
“Kalau bisa mah udah ngga usah ada LKS, capek kita buat makan sehari hari udah berat ini ada lagi Bae, katanya sekolah gratis tapi nyatanya kita ampe pinjem ke online,” ungkap W.
Sayangnya hingga berita ini dilansir, Ratna Dewi Kepala SMP 1 Sepatan Timur belum dapat dimintai keterangannya, berdasarkan salahsatu tenaga keamanan yang bersangkutan tengah tidak berada di tempat.
“Dari tadi pagi ngga keliatan, lagi rapat di dinas kayaknya bang, coba Abang telpon aja deh,” kata keamanan SMPN 1 Sepatan Timur.(Red)











