Molen menjelaskan, maksud tema “Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan” adalah bahwa santri dalam sejarahannya selalu terlibat aktif dalam setiap fase perjalanan kemerdekaan Indonesia. Ketika Indonesia memanggil, santri tidak pernah mengatakan tidak. Santri dengan berbagai latar belakangnya siap sedia mendarmabaktikan hidupnya untuk bangsa dan negara.
“Dulu, ketika Indonesia masih dijajah, para santri turun ke Medan laga, berperang melawan penjajah. Menggunakan senjata bambu runcing yang terlebih dahulu didoakan kiai Subchi Tarakan Temanggung, mereka tidak gentar melawan musuh,” jelas Molen.
Sambung Molen, di Surabaya, resolusi jihad yang digelorakan Kiai Hasyim Asy’ari membakar semangat pemuda-pemuda Surabaya melawan Belanda. Di Semarang, para santri juga turut di garda depan perjuangan. Ditempat lainnya sama. Santri selalu terlibat aktif dalam peperangan melawan penjajahan.
Pada Masa ketika Indonesia sudah memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka, santri juga tidak absen. KH. Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid, adalah salah satu santri yang terlibat secara aktif dalam pemerintahan di awal-awal kemerdekaan. Dialah, bersama santri-santri, dan tokoh-tokoh agama lainnya turut memperjuangkan kemaslahatan umat agama-agama di Indonesia.
Molen juga menuturkan pascakemerdekaan Indonesia, santri lebih semangat lagi memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Mereka tidak asyik dengan dirinya sendiri, tetapi terlibat secara di dunia perpolitikan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, selain juga agama.














Respon (2)