Daerah

Pendiri Pondok Yatama Mendunia, Serukan Persatuan Hadapi Musibah

2530
×

Pendiri Pondok Yatama Mendunia, Serukan Persatuan Hadapi Musibah

Sebarkan artikel ini

NASIONALXPOS.CO.ID, CIREBON – Pengasuh sekaligus pendiri Pondok Yatama Mendunia Kabupaten Cirebon, Ihsanuddin, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa menjaga kesatuan dan persatuan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal itu disampaikan penggagas gerakan Anak Desa Mendunia (ADAM) ini, Senin (28/2) kemarin. Terlebih, di tengah ujian pandemi Covid-19 yang menuntut kerjasama antar elemen bangsa dalam menuntaskannya.

“Seperti kita ketahui, kita masih menghadapi rangakaian musibah yang belum berakhir. Tentu, semua ini bisa jadi ujian seberapa kuat kita dalam menghadapi hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat,” ujarnya.

Akan sangat disayangkan, kata Ihsan, jika dalam menghadapi segala musibah tidak diimbangi dengan upaya gotong royong antar elemen bangsa. Seperti yang tercantum dalam amanat Pancasila yakni Persatuan Indonesia.

Ia juga menyayangkan pernyataan pejabat negara yang bukannya membawa pesan-pesan kedamaian, malah justru sebaliknya: lagi-lagi membuat kegaduhan yang membuat gejolak di sejumlah tempat sekaligus menguji persatuan.

“Kepada seluruh elemen masyarakat, anak bangsa, warga negara, apapun ras, suku, jabatan dan agamanya. Mari kita bersatu, kita bisa melakukan rekonsiliasi dengan baik,” tegas Ihsanuddin, akrab disapa Baba Ihsan.

Ihsan mengajak semua elemen untuk menata kembali hal-hal yang kurang tepat dari sikap, tindakan, kebijakan yang sekiranya tidak menunjukan kepada solusi yang tepat sasaran dengan segala musibah yang tengah dihadapi.

“Saya menghimbau mari kita lakukan “Tobat”, mengakui kekeliruan atas apa yang pernah kita sampaikan, lakukan dan lebih penting lagi menyesali dan tidak pernah mengulangi kembali,” ungkapnya di Desa Bobos, Cirebon.

Sementara, sambung Ihsan, kepada seluruh pejabat publik Ia menghimbau agar dapat membuat kebijakan yang substansial dan esensial, yang tepat guna dan memang dibutuhkan di masa dan situasi sekarang ini.

“Kami juga berpesan agar memperbaiki narasi, komunikasi yang disampaikan kepada masyarakat. Jangan sampai menghadirkan kalimat-kalimat, kata-kata yang kontra produktif dengan misi yang dibangun,” ujarnya.

Tidak boleh ada yg saling menghujat, mencela dan menyalahkan, apalagi kita sebagai sesama anak bangsa. Kita, kata Ihsan, hanya perlu saling mengevaluasi diri, mengoreksi diri, apakah kita betul masih mencintai negeri ini?

“Jika kita mengatakan Saya Pancasila, Saya NKRI. Maka tidak hanya dibuktikan dengan kata-kata, namun dibuktikan dengan tindakan (kebijakan, peraturan, undang-undang) yang baik dan benar,” tandas Ihsanuddin. (Red)

Tinggalkan Balasan