Daerah

Puncak Perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Budhi Bhakti Kota Batam

3106
×

Puncak Perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Budhi Bhakti Kota Batam

Sebarkan artikel ini

NASIONALXPOS.CO.ID, BATAM || KEPRI – Gambaran tentang Hari Raya Tri Suci Waisak “Namo Sanghyang Adi Buddhaya, Namo Buddhaya”. Ucapan ini disampaikan dengan begitu tulus sekali oleh Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Propinsi Kepulauan Riau, Pdt. Ngateman, S. Ag., M.Pd.B diawal perbincangan dengan Media.

Berikut penjelasan-penjelasan penting berkaitan dengan perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak yang diberikan oleh Pdt. Ngateman, S. Ag., M.Pd.B disela-sela tugasnya di Vihara Budhi Bhakti kepada Media. (26/5/2021)

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat berita lainnya.

Pdt. Ngateman menjelaskan bahwa Hari Raya Tri Suci Waisak adalah untuk memperingati Tiga Peristiwa Agung yang terjadi pada Guru Agung Buddha Gautama.

Tiga Peristiwa Agung yang terjadi pada Guru Agung Buddha Gautama yaitu:

1.    Memperingati hari kelahiran Pangeran Sidarta Gautama

2.    Memperingati hari pertama Pertapa Pangeran Sidarta Gautama mencapai penerangan sempurna dan menjadi Buddha.

3.    Memperingati hari Parinibbana atau wafat sang Buddha.

Ketiga Peristiwa Agung itu terjadi pada hari yang sama, yaitu hari Waisak. Tahun lahir sang Buddha adalah tahun 623 S.M di hari Waisak. Tahun mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha adalah tahun 588 S.M. Tahun mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha juga terjadi di hari Waisak. Tahun 543 S.M adalah tahun Parinibbana atau wafat sang Buddha. Wafat sang Buddha ini juga terjadi di hari Waisak.

“Dengan berdasarkan pada ketiga Peristiwa Agung yang terjadi pada hari yang bersamaan, makanya hari Waisak sering disebut sebagai Tri Suci Waisak.”

Gambar Vihara Budhi Bhakti (Yophie H.S)

Rangkaian-Rangkaian Kegiatan Yang Biasa dilakukan di Hari Raya Tri Suci Waisak.

Rangkaian-rangkaian yang biasa diadakan di Hari Raya Tri Suci Waisak:

1.  Penyalaan Lilin atau Pelita

2.  Pemandian Rupang Kelahiran Bodhisatwa Sidarta

3.  Pelaksanaan Puja Bakti

4.  Meditasi

5.  Dhammadesana

6.  Detik-detik Waisak

Panduan Puja Bakti Waisak dan Dharmasanti Waisak

Panduan Puja Bakti Waisak meliputi:

1.  Pemandian Rupang Kelahiran Bodhisatwa Sidharta Gautama

2.  Pukul 17:30 Puja Bakti Detik-Detik Waisak yang jatuh pada pukul 18:13

Rangkaian Kotbah atau Dhammadesana dan juga ada beberapa hiburan.

Puncaknya kegiatan ini adalah Dharmasanti. Dharmasanti diartikan sebagai perayaan Hari Waisak  melalui hiburan dan seni.

Sementara ritualnya adalah berupa Kebaktian atau Puja Bakti dengan memanjatkan Paritta-Parrita Suci ataupun Mantera-Mantera (Keng).

Makna Lilin dan Lantera/Lampion

Dalam agama Buddha, makna sesungguhnya lilin adalah sebagai lambang penerangan. Dengan penyalaan lilin ini, harapan kita ataupun aspirasi kita adalah supaya hidup kita bisa lebih terang.

Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Propinsi Kepulauan Riau, Pdt Ngateman, S. Ag., M.Pd.B mengatakan lilin juga melambangkan ikhlas atau keikhlasan.

“Satu buah lilin bisa menularkan pelita kepada lilin-lilin lainnya. Lilin tadi rela untuk menerangi, kemudian meleleh tubuhnya dengan tulus dan ikhlas”.

Lampion yang diterbangkan dilambangkan sebagai Wishing atau harapan. Dalam momen Waisak ini, setiap manusia memiliki harapan-harapan. Semua harapan ditulis dan digantungkan dalam lampion dan kemudian diterbangkan.

Rangkaian Kegiatan Hari Tri Suci Waisak di Candi Borubudur Dalam Kondisi Normal, Sebelum Pandemi Covid 19.

Puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak secara Nasional dirayakan di Candi Borubudur. Kegiatan ini diikuti oleh umat Buddha dari seluruh Indonesia dan juga bahkan oleh umat Buddha dari Mancanegara.

Rangkaian kegiatan-kegiatan perayaan hari Tri Suci Waisak di Candi meliputi:

1.    Pengambilan Air Suci yang diambil dari sumber Air Suci yang teretak di Umbul Jumprit, kota Temanggung

2.    Pengambilan Api Abadi yang diambil dari Mrapen, Purwodadi Grobogan

Air Suci dan Api Abadi selanjutnya dibawa secara estafet oleh umat Buddha secara sambung menyambung hingga akhirnya tiba di Candi Mendut. Disinilah Air Suci dan Api Abadi disakralkan. Setelah proses pensakralan Air Suci dan Api Abadi dilakukan, umat Buddha dari seluruh Indonesia dan juga yang berasal dari Mancanegara melakukan kebaktian secara bersamaan.

Lanjutan dari acara kebaktian adalah Pradaksina. Pradaksina diartikan sebagai perjalanan Suci dari Candi Mendut, kemudian melewati Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur. Dan di Candi Borobudur inilah puncak perayaan Hari Raya Waisak Nasional di Indonesia yang selalu diadakan setiap tahunnya.

Surat Edaran Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2021 Tentang Panduan Penyelenggaraan Puja Bhakti/Sembahyang Dan Dharmasanti Hari Raya Tri Suci Waisak 2565 Tahun Buddhis/2021 Disaat Pandemi Covid

Pdt. Ngateman, S. Ag., M.Pd.B mengutarakan kepada media bahwa rangkaian-rangkaian kegiatan Waisak yang sifatnya mengumpulkan banyak orang supaya ditiadakan.

“Sehubungan dengan Surat Edaran Menteri, maka rangkaian-rangkain kegiatan Waisak untuk tahun ini, terutama yang bersifat mengumpulkan banyak orang supaya ditiadakan”.

Menurut Pdt. Ngateman, S. Ag., M.Pd.B himbauan-himbauan dari Pemerintah, pada prinsipnya harus selalu dipatuhi dimasa pandemi ini.

“Ibadah perayaan Waisak tahun ini dilaksanakan secara online. Umat yang hadirpun sangat terbatas. Kepada umat yang masih datang ke Vihara disaat perayaan Waisak tetap akan diterapkan Protokol Kesehatan secara ketat, seperti pengecekan suhu tubuh, penyediaan tempat cuci tangan dan pemberlakuan batas-batas antri tempat umat berdiri”

Perbandingan umat yang mengikuti kebaktian Hari Raya Tri Suci Waisak disaat sebelum dan dimasa-masa pandemi Covid 19 di Vihara Budhi Bhakti Batam.

Dalam kondisi normal sebelum pandemic Covid 19, rangkaian-rangkaian kegiatan Waisak di Vihara Budhi Bhakti dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Pemandian Rupang Kelahiran Bodhisatwa Sidarta dan penyalaan pelita/lentera dimulai tiga hari sebelum hari H. Umat yang datang itu tidak terbatas dan bahkan tidak terhingga. Karena umat bisa datang setiap saat untuk memandikan Rupang Bodhisatwa Sidarta dan juga untuk menyalakan Pelita.

Kebaktian Perayaaan Waisak sebelum Pandemi juga dilaksanakan sebanyak 2 kali.

1.    Kebaktian Besar (Kebaktian Perayaan Waisak)

2.    Kebaktian Khusus (Kebaktian Detik-detik Waisak)

Jumlah umat yang mengikuti kedua Kebaktian sangat banyak, bahkan lapangan parker yang lumayan luas sering tidak tertampung, bahkan sampai ke jalan raya

Dimasa pandemi Covid 19, rangkaian-rangkaian kegiatan perayaan Waisak tahun ini dilaksanakan secara online. Tentu yang hadirpun sangat terbatas. Mereka ikut ibadah secara online.

Diakhir pembicaraan, sambil mendengarkan lagu-lagu Budhis dari ruang penyembahan Buddha, Pdt. Ngateman, S. Ag., M.Pd.B menjelaskan untuk terakhirnya kepada media bahwa tujuan utama Sembahyang Hari Raya Tri Suci Waisak adalah untuk menghormati sejarah Guru Agung Sang Buddha Gautama, putra tunggal dari Baginda Raja Soddhodana, yang tealah rela mengorbankan dirinya meninggalkan istananya ataupun harta-hartanya demi untuk mencari penerangan sempurna dan mencari jalan pembebasan manusia dari penderitaan, hingga bisa mencapai pembebasan mutlak atau Nirwana.

“Tujuan utama Sembahyang Hari Raya Tri Suci Waisak adalah untuk menghormati sejarah Guru Agung Sang Buddha Gautama, putra tunggal dari Baginda Raja Soddhodana, yang tealah rela mengorbankan dirinya meninggalkan istananya ataupun harta-hartanya demi untuk mencari penerangan sempurna dan mencari jalan pembebasan manusia dari penderitaan, hingga bisa mencapai pembebasan mutlak atau Nirwana.”(Yophie H. S)

Tinggalkan Balasan