“Perhitungan yang hanya mengalikan volume air dengan satu tarif rata-rata tanpa mempertimbangkan NRW akan menghasilkan angka yang bias dan tidak merepresentasikan kondisi keuangan Perumda Tirta Benteng yang sesungguhnya,” jelasnya.
Ia memastikan bahwa perusahaan tetap berkomitmen menjalankan operasional secara transparan dan akuntabel, serta terbuka terhadap masukan publik.
“Kami terbuka untuk berdiskusi dan memberikan data yang lebih rinci guna memberikan pemahaman yang komprehensif kepada publik,” tambah Tommy.
Terpisah, Harsono Tunggal Putra, pemerhati kebijakan publik. Menilai, penjelasan dari PERUMDA TIRTA BENTENG penting untuk menjernihkan asumsi yang keliru di tengah masyarakat.
“Publik harus memahami bahwa tidak semua air yang diambil bisa menjadi pendapatan. Ada realitas teknis yang terjadi di lapangan, dan itu tidak bisa diabaikan dalam menghitung pendapatan perusahaan,” kata Harsono.
Ia menilai sikap terbuka yang ditunjukkan oleh Perumda Tirta Benteng patut diapresiasi.
“Transparansi seperti ini perlu dibiasakan. Kalau ada data teknis yang memang memengaruhi angka-angka pendapatan, maka kritik pun harus bersandar pada realitas tersebut,” tegasnya. (Chenks)













