Karena ini bukan salah teknis, ini salah niat
Gapura ini menjadi simbol dari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar dugaan korupsi konstruksi. Ia menjadi wajah dari sistem kekuasaan yang telah kehilangan etika.
Proyek ini, bagi banyak warga, terasa seperti sandiwara anggaran dibangun bukan untuk fungsi, tapi untuk formalitas pengeluaran.
Targetnya bukan kenyamanan warga, melainkan tanda tangan dan tanda terima.
Hilman Santosa, Ketua Poros Tangerang Solid, menyebut proyek ini sebagai bukti banalitas kejahatan dalam birokrasi lokal. Ia menolak menyebut ini sebagai sekadar proyek gagal.
“Ini bukan keteledoran ini niat jahat yang dilegalkan lewat prosedur,” kata Hilman.
Kalau gapura seperti ini bisa lolos dananya, berarti yang tanda tangan sudah kehilangan rasa malu. Mereka tahu, tapi pura-pura buta. Dan selama rakyat tidak menjerit, mereka akan terus memeras anggaran sambil tersenyum.
Ia menambahkan dengan nada lebih menusuk: ini bukan soal satu gapura. Ini soal satu pola. Mereka uji kita: berani protes atau tidak. Kalau diam, akan muncul gapura busuk lainnya, jalan rusak dengan plang proyek, drainase mampet dengan anggaran ratusan juta. Semua dibungkus laporan pertanggungjawaban yang indah, padahal isinya kebusukan.








