“Yang ditampilkan bukan kolaborasi, tapi dominasi. Komunitas budaya dan teknologi nyaris tak terlihat, yang ramai justru baliho dan tenda dinas,” sindir Elwin.
Menurutnya, semangat kolaboratif yang digaungkan Pemkot hanya berhenti di spanduk.
“Rakyat cuma jadi penonton. Uangnya miliaran, tapi yang tampil tetap pejabat. Ini bukan festival budaya, ini festival kekuasaan,” ujarnya pedas.
GMNI mendesak Inspektorat Kota Tangerang segera melakukan audit penuh terhadap seluruh rangkaian anggaran Festival Cisadane 2025.
“Transparansi harus dibuka. Jangan biarkan festival berubah jadi ritual tahunan yang menguras APBD,” tutup Elwin.
Hingga berita ini diturunkan, Dinas Pariwisata Kota Tangerang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan duplikasi anggaran maupun keterlibatan EO dalam kegiatan tersebut. (Red)













