“Yang datang malam itu perempuan muda, berdandan mencolok, keluar pagi dalam keadaan mabuk, atau kadang terlibat perkelahian,” ungkap seorang warga.
Ia menambahkan bahwa ruang karaoke yang dilengkapi toilet pribadi serta kamar inap di lokasi yang sama memicu kecurigaan soal fungsi sebenarnya dari tempat itu.
“Sudah seperti ada pola. Yang nyanyi dan yang menemani itu beda. Tapi jam tertentu mereka pindah ke kamar. Ini bukan karaoke biasa,” katanya.
Warga mengaku telah menyampaikan keluhan ke RT, RW, hingga kelurahan, namun tak membuahkan hasil. Kuat dugaan, ada jaringan perlindungan sistemik dari sejumlah oknum pejabat, aparat keamanan, hingga tokoh ormas setempat yang menerima “jatah” dari pengelola FM3.
“Uang dan fasilitas mengalir. Kadang bentuknya bukan uang tunai, tapi layanan atau fasilitas hiburan gratis yang tidak resmi. Ini sudah jadi bisnis gelap yang sulit disentuh hukum,” kata narasumber yang enggan disebutkan namanya.
Insiden pemukulan terhadap aktivis mahasiswa M. Eddy Sopyan dianggap sebagai bukti nyata bahwa kekuasaan dan uang telah membungkam kritik sosial.







