NASIONALXPOS.CO.ID, LEBAK – Setelah ramainya pemberitaan diberbagaI media baik media online maupun media cetak, tentang robohnya pembangunan embung yang berlokasi di kampung Dukuh Sindang Desa Leuwi Coo Kecamatan Muncang Kabupaten Lebak, menjadi sorotan para aktivis Lebak, program embung Flood Management on Selected River Basins (FMSRB) ADB.2021 yang diambil dari dana Anggaran Perbelanjaan Belanja Negara (APBN) dengan nilai kontrak senilai Rp.643.150.000, para aktivis Lebak menduga dalam pelaksanaannya asal- asalan.
Salah satunya LSM Benteng Aspirasi Rakyat (BENTAR),
Didin Rapiudin Ketua Investigasi LSM BENTAR saat di temui Nasionalxpos.co.id, Kamis (05/08/2021), mengatakan, sebagai putra daerah yang tinggal di Muncang saya sangat mengetahui persis tentang kejadian robohnya embung Dukuh Sindang Desa Leuwi Coo, pada tahap awal di mulainya pembangunan. “Namun saya sangat menyayangkan kepada rekan-rekan media yang memberitakan malah terjadinya ambrol embung tersebut akibat faktor alam, tanah yang labil, ini bagi saya tidak benar, sebab saya yang langsung turun ke lokasi pembangunan, pada saat dimulai pelaksanaan pembangunan embung itu cuaca sangat cerah dan tidak ada hujan sama sekali,” ujarnya dengan nada kecewa.
“Bahkan mengutip dari berita klarifikasi tersebut dimana pihak Dinas PUPR Lebak mengatakan penyebab robohnya pembangunan embung karena musim hujan, bagi saya itu alasan yang kurang tepat, karena pada saat pembangunan tidak ada hujan sama sekali dan hujan turun baru beberapa hari ini saja, seharusnya rekan media turun dulu kelapangan sebelum membuat beritanya, jangan hanya bertanya pada pihak kontraktor atau pada Dinas terkait, yang jawabannya selalu pembenaran saja, kalau rekan media turun langsung ke lokasi dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” Terangnya.
Masih kata Pudin panggilan singkat Didin Rapiudin “Mungkin kalau tidak ramai dalam pemberitaan pihak pelaksana ataupun Dinas terkait tidak akan segera di perbaiki embung tersebut, yang menjadi persoalan segampang itukah kalau setiap pembangunan pada tahap awal di bangunnya asal jadi kemudian ambruk Dinas PUPR atau rekan kontraktor hanya menjawab itukan pekerjaan belum selesai, nanti juga diperbaiki kembali, enak dan segampang itu jawabannya, memang itu proyek pembangunan memakai uang nenek moyangnya.” jelasnya.
Pudin menambahkan “Saya mencoba menghubungi Rajudin Kepala Desa Leuwi Coo tentang Masalah ini, Kepala Desa memberikan jawaban, Alhamdulillah sekarang bangunan embung sudah mulai di perbaiki pihak ketiga dan mau bertanggung jawab, ketika saya tanya siapa pemborongnya? Dia bilang itu punya JB, dan JB kali yang mengerjakannya”, Jawabnya.
Tim Nasionalxpos.co.id mencoba menghubungi Rajudin Kepala Desa Leuwi Coo dirinya mengatakan, Soal siapa yang mengerjakan atau CV apa yang mengerjakan proyek embung tersebut saya tidak tahu sama sekali, karena saya hanya sebagai suplayer materialnya saja, soal ini itu saya tidak tahu, kalau ingin jelas silahkan saja langsung ke Dinas, siapa dan CV apa yang mengerjakan Peryek embung tersebut. Jawabnya plin-plan. (SA)













