“Tetapi setelah memasuki era reformasi hingga saat ini, banyak partai yang memanfaatkan calon eksternal yang mencalonkan diri melalui partainya dimanfaatkan untuk melancarkan jalannya partai melalui mahar politik,” ungkapnya.
Itu dikarenakan faktor kadernya sendiri tidak memiliki nilai jual atau yang dapat dipasarkan, sehingga sesuatu yang dikerjakan atau yang diharapkan partai itu ingin segera tercapai tanpa mau berfikir panjang dan tanpa melalui proses yang lama.
“Ketika parpol merasa tidak memiliki kader yang marketabel untuk berkontestasi dalam pilbub / pilwalkot, mereka berfikir fragmatis transaksional,” pungkasnya. (Simon)













