NASIONALXPOS.CO.ID, BLORA – Dewan juri/kurator menetapkan 10 Pohon Utama Merti Kayon Blora 2026 dari 38 peserta Lomba Foto Pohon Bernarasi. Pohon Kesambi Sendhang Kaliuloh di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, meraih nilai tertinggi dengan 273 poin.
Penetapan tersebut diumumkan setelah proses pengumpulan dokumentasi peserta berakhir pada Sabtu (10/10/2026). Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari perseorangan, pelajar, kelompok warga, karang taruna, hingga komunitas dan kelompok sadar wisata.
Salah satu dewan juri/kurator, Eko Arifianto, mengatakan seluruh karya peserta memiliki keunikan tersendiri sehingga proses penilaian tidak mudah.
“Semuanya bagus, kami dewan juri hampir kebingungan untuk memilih. Namun, kami tetap harus menentukan 10 pohon utama Merti Kayon Blora 2026,” ungkap Eko, Rabu (14/10/2026).
Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek, yakni profil pohon, nilai ekologis dan konservasi, nilai sejarah, budaya dan tradisi, keunikan dan kelangkaan, serta kualitas foto dan video. Masing-masing aspek memiliki bobot maksimal 20 poin.
Selain Pohon Kesambi Sendhang Kaliuloh yang menempati peringkat pertama, posisi kedua diraih Pohon Kepoh Sendang Mahbang di Kecamatan Jepon dengan 266 poin. Peringkat ketiga ditempati Pohon Wungu di Desa Sendhangwungu, Kecamatan Banjarejo, dengan 265 poin.
Berikutnya, Pohon Panggang Sendhang Mahbang meraih 263 poin, disusul Pohon Bolu di Desa Galuk dengan nilai yang sama. Pohon Kepuh Brumbung di Desa Gagaan memperoleh 262 poin, sedangkan Pohon Trembesi dan Kepoh Sendhang Mojokulon meraih 260 poin.
Tiga posisi berikutnya ditempati Pohon Pule Kedung Prau dengan 258 poin, Pohon Beringin Tua di Situs Sigitan dengan 256 poin, serta Pohon Beringin Sepuh di Pasar Ketuwan dengan 254 poin.
Dewan juri/kurator menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mendokumentasikan pohon-pohon bernilai ekologis, sejarah, budaya, dan tradisi di berbagai wilayah Kabupaten Blora.
Merti Kayon Blora 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang apresiasi fotografi dan narasi, tetapi juga mendorong kepedulian masyarakat terhadap pelestarian pohon-pohon besar sebagai bagian dari warisan alam dan identitas lokal.
Melalui kegiatan ini, dokumentasi pohon diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat upaya perlindungan lingkungan sekaligus menjaga pengetahuan lokal agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.















