Daerah

Tradisi Nyekar Jelang Lebaran, Mbah Suli dan Berkah Penjualan Bunga

355
×

Tradisi Nyekar Jelang Lebaran, Mbah Suli dan Berkah Penjualan Bunga

Sebarkan artikel ini
Mbah Suli pedagang kembang asal Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan, saat sedang membungkus kembang untuk nyekar.

NASIONALXPOS.CO.ID, BLORA – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H, tradisi nyekar atau ziarah kubur kembali meramaikan suasana di berbagai daerah. Kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sebagai sarana untuk memanjatkan doa dan memohon berkah. Tak terkecuali, para penjual bunga juga merasakan berkah dari tradisi ini.

Mbah Suli, seorang penjual bunga asal Desa Ngumbul, Todanan, mengungkapkan bahwa ia merasakan peningkatan penjualan menjelang H-3 Idul Fitri. Banyak masyarakat yang membeli bunga untuk keperluan ziarah kubur. Menurutnya, satu paket bunga yang dibungkus daun pisang dijual seharga Rp 5.000.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat berita lainnya.

“Bunga ini memang banyak dicari oleh masyarakat Ngumbul dan sekitarnya menjelang Lebaran. Mereka membeli bunga untuk diletakkan di makam orang yang telah meninggal, sebagai tanda penghormatan dan doa,” ungkap Mbah Suli, yang kini berusia sekitar 90 tahun.

Ia menjelaskan bahwa jenis bunga yang paling diminati adalah bunga melati, Kenanga, Gading, dan mawar, yang memiliki makna mendalam dalam tradisi ziarah. Selain untuk menghiasi makam, bunga-bunga ini juga digunakan untuk mempersembahkan doa dan harapan agar arwah orang yang telah meninggal mendapatkan ketenangan dan keberkahan.

“Pada hari-hari biasa, saya hanya bisa menjual beberapa bungkus bunga per hari. Namun, menjelang Ramadhan dan Lebaran, permintaannya meningkat pesat. Ini menjadi berkah tersendiri bagi kami para penjual bunga,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan