Opini

Green Hydrogen Jadi Harapan Baru Penyimpanan Energi Terbarukan Indonesia

25
×

Green Hydrogen Jadi Harapan Baru Penyimpanan Energi Terbarukan Indonesia

Sebarkan artikel ini
IMG 20260705 WA0023

NASIONALXPOS.CO.ID – Indonesia tengah menghadapi momentum penting dalam upaya mewujudkan transisi energi menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan tantangan pengurangan emisi karbon, teknologi green hydrogen atau hidrogen hijau mulai dipandang sebagai salah satu solusi strategis untuk mendukung ketahanan energi sekaligus mempercepat dekarbonisasi berbagai sektor.

Hal tersebut disampaikan oleh Agung Tris Mulyadi dalam artikel ilmiahnya yang mengulas potensi green hydrogen sebagai media penyimpanan energi terbarukan di Indonesia. Menurutnya, pengembangan energi terbarukan tidak hanya bergantung pada pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, angin, air maupun panas bumi, tetapi juga pada kemampuan menyimpan energi saat produksi melimpah dan memanfaatkannya kembali ketika dibutuhkan.

Advertisement
file 00000000f95871fa8381970073c004f3
Scroll kebawah untuk lihat berita lainnya.

Dosen Teknik Mesin Universitas Mercu Buana, Dr. Nanang Rukhyat, M.T., menegaskan bahwa energi terbarukan merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan energi nasional.

“Energi terbarukan bukan hanya pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi juga investasi jangka panjang bagi ketahanan energi nasional. Pengembangannya harus didukung oleh inovasi teknologi, kebijakan yang konsisten, serta keterlibatan masyarakat,” ujarnya.

Dalam sistem energi modern, green hydrogen diproduksi melalui proses elektrolisis air menggunakan listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan. Hidrogen yang dihasilkan kemudian dapat disimpan dan dimanfaatkan kembali sebagai pembangkit listrik, bahan bakar transportasi berat maupun bahan baku industri.

Berdasarkan laporan International Renewable Energy Agency (IRENA), hidrogen hijau berbasis energi terbarukan akan menjadi salah satu elemen penting untuk mencapai target emisi nol bersih (net zero emission). Teknologi ini dinilai mampu mengatasi kelemahan energi surya dan angin yang produksinya bergantung pada kondisi cuaca.

Dari sisi keilmuan teknik mesin, pengembangan green hydrogen mencakup berbagai aspek penting, mulai dari efisiensi elektroliser, sistem perpindahan panas, kompresi gas, penyimpanan bertekanan tinggi hingga pemanfaatan kembali hidrogen melalui fuel cell maupun turbin gas.

Indonesia sendiri memiliki modal besar berupa potensi energi terbarukan yang melimpah, seperti tenaga surya, air, panas bumi, angin, bioenergi hingga energi laut. Potensi tersebut membuka peluang besar untuk memproduksi hidrogen hijau dalam skala nasional.

Namun demikian, keberhasilan pengembangannya tidak hanya bergantung pada besarnya potensi energi, melainkan juga kesiapan teknologi penyimpanan, infrastruktur, regulasi, serta keberadaan sektor industri sebagai pengguna utama.

Laporan Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebutkan Indonesia memiliki potensi produksi hidrogen hijau hingga puluhan juta ton per tahun. Meski demikian, pengembangannya perlu difokuskan terlebih dahulu pada kawasan industri, pelabuhan, industri pupuk, amonia, kilang, serta wilayah yang memiliki sumber energi terbarukan dalam jarak yang berdekatan agar layak secara ekonomi.

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) dalam Global Hydrogen Review 2025 mencatat kapasitas elektrolisis global terus meningkat dengan China menjadi pemimpin dunia dalam pengembangan teknologi tersebut. Meski demikian, banyak proyek green hydrogen di berbagai negara masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya investasi, ketidakpastian kebijakan, dan belum terbentuknya permintaan pasar yang kuat.

Di Indonesia, tantangan serupa juga masih dihadapi. Biaya produksi green hydrogen masih lebih tinggi dibandingkan hidrogen konvensional berbahan bakar fosil. Selain itu, pembangunan infrastruktur penyimpanan, distribusi, serta standar keselamatan hidrogen juga memerlukan investasi besar.

Meski demikian, green hydrogen bukan diposisikan sebagai pengganti baterai, melainkan pelengkap. Baterai lebih efektif untuk penyimpanan energi jangka pendek, sedangkan hidrogen dinilai lebih cocok untuk penyimpanan energi dalam skala besar dan jangka panjang, termasuk untuk kebutuhan industri berat dan transportasi.

Selain mendukung ketahanan energi, pengembangan green hydrogen juga membuka peluang besar bagi dunia riset dan industri nasional. Berbagai penelitian mengenai efisiensi elektroliser, sistem penyimpanan, integrasi dengan pembangkit listrik tenaga surya maupun tenaga air hingga analisis tekno-ekonomi menjadi bidang yang sangat potensial untuk dikembangkan.

IMG 20260705 WA0024
Ilustrasi fasilitas pengelolaan hidrogen hijau

Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Renewable Energy Development bahkan menunjukkan bahwa pemanfaatan kelebihan daya dari pembangkit listrik tenaga air skala kecil di Indonesia dapat menjadi langkah awal yang realistis dalam memproduksi hidrogen hijau melalui teknologi alkaline water electrolyzer yang relatif lebih matang dan ekonomis.

Melihat besarnya potensi tersebut, pengembangan green hydrogen di Indonesia dinilai perlu dilakukan secara bertahap melalui proyek percontohan, dukungan regulasi yang jelas, peningkatan riset dan inovasi, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Dengan kekayaan sumber energi terbarukan yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pemain penting dalam ekonomi hidrogen hijau di masa depan. Apabila dikelola secara tepat, green hydrogen tidak hanya menjadi solusi penyimpanan energi terbarukan, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan rendah karbon.

Tinggalkan Balasan