“Kita sudah ada beberapa orag dokter sub spesialis, yang tentunya dapat memberikan pelayanan yang lebih maksimal. Bahkan kita sudah menjadi pusat layanan pasien cuci darah. Makanya wajar kita jadi rujukan wilayah barat,” jelas Edi.
Meskipun RSUD H Hanafie sudah menjadi rumah sakit rujukan, lanju Edi Mustafa, ada beberapa kategory pasien yang harus mendapat tindakan rujukan ke rumah sakit yang tentunya memilik tipe atau kelas lebih tinggi.
“Jadi kalau pasiennya butuh penindakan lebih lanjut, sementara alatnya kita tidak ada, ya pasti kita rujuk kembali ke rumah sakit yang lebih lengkap,” jelasnya.
Seperti pasien jantung dan struk, jelas Edi, ada tingkatan kondisi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan diharuskan dirujuk, maka barula tindakan rujukan dilakukan.
“Tekhusus pasien struk yang memerlukan tindakan Magnetic Resonance Imaging (MRI), saat ini masih kita rujuk karen kita belum memilikinya, tapi insyaallah alat ini akan diberikan oleh kementrian pada tahun 2025 mendatang,” jelasnya.
“Jadi biasanya kita merujuk ke Sumatra Barat, ini karena rumah sakit disana tipe A dan milik kementrian yang perlatannya lebih lengkap dibandingkan kita. Jadi bukannya tanpa dasar. Saya berharap masyarakat kita bisa mengerti hal ini,” tutupnya. (is)













