Daerah

Jandi Skakmat Walikota: “Orang Itu yang Dipegang Omongannya

88
×

Jandi Skakmat Walikota: “Orang Itu yang Dipegang Omongannya

Sebarkan artikel ini

TANGERANG – Aktivis Ibnu Jandi melontarkan kritik keras terhadap Walikota Tangerang, Sachrudin, pasca-audiensi yang berlangsung di Gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Senin (2/3/2026).

Jandi menuding pemerintah kota bersikap tidak konsisten terkait penyelesaian piutang PDAM senilai Rp 17 miliar yang melibatkan dirinya.

Persoalan ini mencuat saat Jandi menagih janji Direktur Utama PDAM, Doddy Effendi, yang diklaimnya pernah menyatakan akan mencicil kewajiban tersebut sebesar Rp 300 juta hingga Rp 500 juta per bulan.

Menurut Jandi, kesepakatan itu sudah diketahui oleh Walikota dan Sekda pada pertemuan akhir tahun 2025.

Namun, dalam audiensi tersebut, Walikota Sachrudin justru mempertanyakan bukti fisik dari kesepakatan tersebut.

“Buktinya mana? Enggak pernah tuh saya dan Pak Sekda mengatakan itu kepada Doddy dan Rahmat,” ujar Jandi menirukan ucapan Walikota dalam pernyataan videonya, Selasa (3/3/2026).

Jandi sempat meminta agar Walikota menghadirkan Dirut PDAM dan pengacara yang menjadi saksi kunci untuk mengonfrontasi pernyataan tersebut. Namun, permintaan itu ditolak dengan alasan yang bersangkutan sedang bertugas di luar kota.

​”Saya nyengir saja. Kasihan benar ini Walikota, Jangan-jangan skenario ini adalah kelicikan dari Walikota Tangerang,” cetus Jandi.

Kekecewaan Jandi tidak hanya terbatas pada masalah PDAM. Ia turut mengungkit sejumlah janji dari pejabat terdahulu, termasuk mantan Walikota Arief Wismansyah, yang menurutnya hingga kini belum terealisasi.

Janji-janji tersebut mencakup komitmen 10 persen hasil serah terima aset hingga pengadaan lahan untuk SDN Tangerang 15.

​”Satu, Walikota Tangerang H. Arief Wismansyah mau ngasih sekitar 10% dari hasil serah terima aset Kabupaten-Kota Tangerang. Dan itu bohong, faktanya Pak Arief bohong,” tegasnya.

​Jandi merasa ironis karena kontribusinya dalam mengamankan 56 aset daerah kini sudah dinikmati oleh Pemerintah Kota, namun hak-hak yang dijanjikan kepadanya terus dijawab dengan tuntutan bukti administratif.

Ia mengingatkan bahwa dalam kepemimpinan, integritas ucapan adalah hal yang utama.

​”Orang itu yang dipegang omongannya, Pak Sachrudin, Pak Walikota-ku yang ganteng. Berkali-kali Pak Sachrudin mengatakan ‘Buktinya mana? Bukti tertulisnya mana?'” tuturnya.

​Menutup pernyataannya, Jandi menyadari posisinya yang sulit karena berhadapan langsung dengan otoritas kekuasaan tanpa dukungan saksi yang mau bersuara.

“Pasti mereka akan bohong semua karena si Jandi sendirian. Pasti dijawab tidak semuanya,” pungkasnya.[Rizky]

Tinggalkan Balasan