NASIONALXPOS.CO.ID, DENPASAR – Untuk mendukung kebutuhan lanskap kawasan, sebanyak 25.941 tanaman dari 83 spesies saat ini dirawat dan dipersiapkan di Nursery Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Fish Bone Park. Rabu, (21/10/2026).
Berdasarkan data per 11 September 2026,
koleksi tersebut terdiri dari 57 jenis tanaman perdu (shrub) dan 26 jenis pohon (tree). Keberadaan tanaman Ini tidak hanya terlihat dari area yang telah ditanam, tetapi juga dari proses panjang pembibitan sebelumnya.
Nursery menjadi bagian penting dalam pengelolaan lanskap Kura Kura Bali
karena menyediakan sumber tanaman yang dapat dipersiapkan secara bertahap sesuai kebutuhan pengembangan kawasan.
Landscape Kura Kura Bali Terus Berkembang
Peran Nursery semakin penting seiring dengan bertambahnya luasan lanskap di Kura Kura Bali. Pada 2026, area lanskap kawasan telah mencapai sekitar 240.379 m², meningkat hampir dua kali lipat sejak 2023. Hingga tahun ini, tercatat ada sekitar 737.441 tanaman pohon dan perdu di dalam kawasan, jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan di tahun 2023 yang hanya 177.000 tanaman.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kebutuhan tanaman untuk mendukung
lanskap kawasan juga terus meningkat. Dengan demikian, Nursery di dalam
kawasan juga berperan sebagai fasilitas pembibitan internal yang membantu
menyiapkan tanaman secara berkelanjutan.
Melalui proses pembibitan, perawatan, dan penanaman yang terencana, keberadaan Nursery mendukung pengembangan vegetasi kawasan sekaligus membantu menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan nyaman.
Dari Semai hingga Siap Tanam
Tanaman yang berada di Nursery tidak seluruhnya berada pada tahap yang sama. Setiap tanaman melalui proses pembibitan dan pembesaran hingga mencapai kondisi yang sesuai untuk ditanam di kawasan.
Dari total 25.941 tanaman, sebanyak 14.674 tanaman masih berada pada fase semai, 10.746 tanaman berada pada fase sapih, sementara 521 tanaman telah mencapai status ready to plant.
Beragam Jenis untuk Mendukung Lanskap
dari 83 Spesies yang Tersedia
Tanaman perdu memiliki porsi yang cukup besar karena banyak digunakan untuk mendukung struktur vegetasi, penutup
area, serta elemen estetika lanskap.
Beberapa jenis dengan jumlah populasi yang signifikan antara lain Kenyeri (Nerium oleander) sebanyak 2.764 tanaman, Selada Laut (Scaevola taccada) sebanyak 2.475 tanaman, dan Cendrawasih (Phyllanthus myrtifolius) sebanyak 3.889 tanaman.
Sementara itu, koleksi pohon dipersiapkan untuk mendukung pembentukan kanopi dan struktur vegetasi jangka panjang di kawasan. Keragaman jenis tanaman juga menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan lanskap Kura Kura Bali, dengan mempertimbangkan fungsi ekologis, karakter lanskap, kebutuhan area, serta kesesuaian tanaman.
Membudidayakan Tanaman Lokal dan Mendukung Kualitas Lingkungan
Selain beberapa jenis tanaman yang sudah disebutkan, Nursery Kura Kura Bali juga membudidayakan berbagai jenis tanaman yang telah dikenal sebagai bagian dari vegetasi Bali dan kawasan pesisir tropis, antara lain: selada laut (Scaevola taccada), widuri (Calotropis gigantea), jepun (Plumeria pudica), jempiring (Gardenia jasminoides), dan andong (Cordyline fruticosa).
Sementara itu, keberadaan Nursery juga terhubung dengan area pengelolaan sampah organik, Island Compost Center (ICC) di Fish Bone Park. Kompos yang dihasilkan fasilitas ini dapat dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari pengelolaan media dan pemeliharaan tanaman.
Dengan demikian, pengelolaan Nursery menjadi bagian dari siklus yang lebih
luas: sampah organik diolah menjadi kompos, kompos dimanfaatkan untuk mendukung tanaman, dan tanaman kembali menjadi bagian dari lanskap kawasan.
Melibatkan Masyarakat Desa Serangan
Operasional Nursery Kura Kura Bali turut melibatkan tenaga kerja lokal. Saat ini 64% tenaga kerja yang menjalankan kegiatan perawatan Nursery merupakan dari Desa Serangan, mereka tergabung melalui tiga mitra kerja, CAREFAST, KKBP, dan PERKASA.
Keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian dari upaya BTID untuk membuka kesempatan kerja dan melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaan kawasan, termasuk dalam kegiatan perawatan tanaman dan lanskap.
Astini dan Dayu, pekerja asal Serangan, menceritakan rutinitas harian mereka di kawasan tersebut mulai dari pembibitan sampai perawatan.
“Kami mulai bekerja dari jam 8 pagi. Iya, kegiatannya mulai dari pembibitan sampai perawatan tanaman, semuanya dilakukan di sini,” tutur mereka.
Sementara Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy menyampaikan bahwa keberadaan Nursery bukan sekadar fasilitas pendukung estetika lanskap, melainkan bentuk komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Pengembangan lanskap KEK Kura Kura Bali kami jalankan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Lewat Nursery dan pemanfaatan kompos dari Island Compost Center (ICC), Nursery ini menjadi simbol bagaimana pertumbuhan kawasan dapat berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan dan manfaat bagi komunitas sekitar,” ujar Zefri.
Menyiapkan Lanskap Kura Kura Bali untuk Masa Depan
Kedepan, inisiatif dan fasilitas ini akan terus dikembangkan sejalan dengan pertumbuhan kawasan dan kebutuhan lanskap.
Dengan pengelolaan pembibitan, pemeliharaan, pemanfaatan kembali
sumber daya, serta keterlibatan masyarakat lokal, Nursery menjadi salah satu bagian dari upaya Kura Kura Bali dalam membangun lanskap yang hijau, beragam, berkelanjutan, dan sesuai dengan karakter lingkungan Bali. (Uchan)















