“Kayak seperti itu, itu kan apa ya? Gak kroso (terasa) itu kalau memang iya, gak ada. Gak merasa. Sudah saya jelaskan (pada pasien), sekarang saya periksa, saya obati, besok saya rujuk,” jelas Rodli Alfiyan. Selasa, (07/05/2024), sekira pukul 10.06 WIB.
Seraya menambahkan, “Saya itu, dokter sudah lama. Lha saya ini, bergabung di “Bumi Budaya Mojokerto” sama “Mojokerto Maju” (Grup whatsapp). Di sini kan juga ada wartawan. Di dalam itu, ya sudah tahu pemikiran saya. Kalau bab kemarin itu, ada pasien seperti itu sudah lama. Saya memberi omongan, dan itu memang seperti ada gangguan. Jadi, DM (Diabetes Melitus) terus gangguan psikis,” tutup Rodli Alfiyan.
Sedangkan di pihak lain, ketika awak media menggali informasi lebih dalam kepada narasumber berbeda terkait masalah tersebut, ia menyampaikan bahwa oknum dokter Rodli Alfiyan itu memang perangainya orang kasar.
“Kasar orangnya. Sama pasien, ya seperti itu. Semua sudah tahu,” terang narasumber dalam logat Jawa nya. Selasa, (07/05/2024) sekira pukul 14.47 WIB.
Bahkan pernah, saat sesekali ia mengantar ibunya yang sudah usia lanjut ke Puskesmas Lespadangan, narasumber ini mengaku sempat mengalami bahasa yang kurang menyenangkan dari oknum dokter Rodli Alfiyan.
“Wes talah, koen (bahasa Jawa kasar) iku gak iso waras nek carane berobat ngunu,” kata narsum, menirukan ucapan oknum dokter Rodli Alfiyan yang artinya (Sudahlah, kamu itu gak bisa sembuh kalau caranya berobat begitu).
Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut dirinya juga memperbincangkan perilaku oknum dokter Rodli Alfiyan kepada tenaga kesehatan lain terkait dengan tata kramanya.
“Tak takokno, mbak sepuntene nggih! Sakjane dokter niku tiyang pundi seh? Kog mboten gadah toto kromo. (Saya tanyakan, mbak maaf ya! Sebenarnya dokter itu orang mana sih? Kog gak punya tata krama),” kisahnya kepada awak media.
Seketika oleh Nakes yang diajak bicara, ia justru disarankan untuk meminta surat rujukan hanya pada hari Jumat dan Sabtu saja. Lantaran, menurutnya pada saat itu oknum dokter Rodli Alfiyan posisinya tidak berada di tempat.
“Wonge iki kog ngene yo? Wong ‘sarap’ iki? dokter iki loh, ‘gak genah’? (Orang ini kog begini ya? Orang ‘sarap’ ini? dokter ini loh, gak beres?). Cara bicaranya dokter gak seperti itu. Penilaian ku, ya diduga seperti orang ‘stres’?” tuding narsum terhadap dokter Rodli Alfiyan, oknum tenaga kesehatan di Puskesmas Lespadangan. (Agung Ch)














Respon (1)