Dalam perspektif Ruhiologi, Pancasila bukan sekadar lima sila, melainkan lima poros ruhani pembentuk keutuhan bangsa:
- Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pusat kesadaran transendental,
- Kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai wujud kasih sayang universal,
- Persatuan Indonesia sebagai fondasi spiritual kolektif,
- Kerakyatan sebagai ekspresi keadilan sosial yang partisipatif,
- dan Keadilan Sosial sebagai tujuan ruhani yang nyata.
Menjawab Tantangan Global dengan Pendidikan Ruhani
Krisis global seperti konflik geopolitik, kerusakan lingkungan, hingga kegersangan spiritual generasi muda menjadi alarm bagi pentingnya pendidikan yang memuliakan manusia dari dalam. Melalui pendekatan RQ (Ruhani Quotient), Prof. Iskandar menyerukan perlunya transformasi paradigma pendidikan — dari sekadar transfer ilmu menjadi proses penyadaran jiwa.
“Saat dunia kehilangan arah, Pancasila dan Ruhiologi adalah lentera jalan pulang bangsa,” pungkasnya.
Pancasila, Bukan Hanya Dihafal Tapi Dihayati
Di era disrupsi seperti saat ini, Pancasila tidak boleh berhenti di hafalan semata. Ia harus dihayati oleh jiwa, dengan jiwa, untuk jiwa — menjadi cahaya yang menuntun arah hidup bangsa Indonesia. (Id)














