Daerah

Pedagang Gudeg Lapor ke Polisi, Enas Minta Kronologi Sebenarnya Dibuka

23
×

Pedagang Gudeg Lapor ke Polisi, Enas Minta Kronologi Sebenarnya Dibuka

Sebarkan artikel ini

Kota Tangerang – Peristiwa keributan di kawasan Pasar Lama, Sukasari, Kota Tangerang, yang sempat viral dan telah dirilis oleh Polres Metro Tangerang Kota, disebut tidak sepenuhnya sesuai dengan kronologi yang terjadi di lapangan.

Nasrullah alias Enas, salah satu pihak yang ikut melerai dan terlibat dalam insiden dorong-mendorong dengan pedagang gudeg bernama Coki, meminta agar kejadian tersebut dijelaskan secara utuh sesuai fakta sebenarnya, Senin (11/5/2026).

Menurut Enas, informasi yang dirilis belum menggambarkan awal mula kejadian secara lengkap. Ia menjelaskan, insiden bermula ketika rekannya, Iyan, menegur Coki agar memindahkan area cucian piring dan meja dagangannya karena dinilai menghalangi akses jalan pedagang lain pada Jumat sore (8/5/2026).

“Karena tidak terima ditegur, saudara Coki emosi. Akhirnya terjadi adu mulut dan saling dorong. Saat itu kaki Coki tersandung kakinya sendiri hingga jatuh,” ujar Enas saat ditemui di Polsek Tangerang.

Ia menegaskan bahwa Coki bukan jatuh akibat didorong pihaknya.

“Jadi bukan jatuh karena kita dorong, tapi karena keserimpet kaki sendiri,” katanya.

Enas juga menyebut video yang beredar di media sosial tidak menampilkan keseluruhan peristiwa dari awal kejadian.

“Bukan membela diri, tapi kejadiannya tidak serta-merta seperti yang terlihat di video. Awal mula persoalannya tidak diceritakan dalam rilis tersebut,” ujarnya.

Ia turut membantah adanya aksi pemukulan dalam peristiwa itu. Menurutnya, yang terjadi hanya aksi saling dorong saat suasana memanas.

“Di video juga jelas tidak ada pemukulan, hanya saling dorong. Kami awalnya hanya ingin melerai karena situasi sudah emosi semua,” ucapnya.

Enas menjelaskan, persoalan bermula dari teguran terkait posisi meja dagangan dan area cucian piring milik Coki yang dinilai terlalu memakan akses keluar-masuk gerobak pedagang lain di Pasar Lama.

“Kita menegur agar cucian piring dan meja dagangan digeser karena dekat akses keluar masuk gerobak pedagang. Tapi teguran itu tidak pernah diindahkan. Meja dagangannya memang panjang,” katanya.

Menurut Enas, situasi semakin memanas ketika pihaknya dituduh sebagai preman dan diduga mengambil telepon genggam milik Coki.

“Pas kejadian itu, kami dituduh preman dan dituduh mengambil HP. Itu yang memicu refleks dan spontanitas suasana jadi panas,” ujarnya.

Ia juga mengklaim rekannya, Iyan, mengalami tindakan kekerasan saat keributan berlangsung.

“Coki emosi, mencekik, merobek kaos saudara Iyan, dan mencakar dada sebelah kiri. Jadi sebenarnya siapa yang preman?” kata Enas.

Lebih lanjut, Enas menyatakan pihaknya juga akan menempuh jalur hukum karena merasa turut menjadi korban dalam insiden tersebut.

“Untuk konsekuensi tentu kami siap jalani. Tapi di pihak kami juga ada korban. Saudara kami, Iyan, mengalami luka dan sakit di tenggorokan karena dicekik. Kami juga akan membuat laporan resmi dan melakukan visum,” tegasnya.

Ia berharap kasus tersebut dapat diungkap secara terang-benderang dengan melihat duduk persoalan dari awal hingga akhir agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

“Harapan kami, semuanya dibuka secara jelas sesuai kronologi sebenarnya. Karena yang berdagang di tempat itu juga bukan hanya saudara Coki sendiri,” pungkasnya.[red]

Tinggalkan Balasan