Scroll Untuk Baca Berita
Opini

Tapanuli, Destinasi Pedagang Antar Benua di Awal Abad Pertama

1256
×

Tapanuli, Destinasi Pedagang Antar Benua di Awal Abad Pertama

Sebarkan artikel ini

NASIONALXPOS.CO.ID, TANGERANG –Pohon Kemenyan adalah pohon penghasil getah Kemenyan. Pohon Kemenyan merupakan salah satu pohon asli Indonesia, tumbuhan ini tersebar alami di pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Resin (getah kemenyan) yang dihasilkan dari tanaman ini telah diperdagangkan sejak 5.000 tahun silam. Bersama dengan Kapur Barus, Kemenyan telah menjadi komoditi andalan Nusantara sejak beratus tahun silam.

Advertisement
Scroll Kebawah Untuk Lihat Berita

Getah kemenyan yang diperdagangkan untuk kebutuhan mistik, medis, hingga kosmetik ini dihasilkan oleh tanaman dari famili Styracaceae genus Styrax.
Di Indonesia biasanya disebut sebagai Kemenyan Durame (Styrax Benzoine), Kemenyan Bulu (Styrax Benzoine var. hiliferum), Kemenyan Toba (Styrax paralleloneurum), dan Kemenyan Siam (Styrax Tokinensis).

Jenis-jenis kemenyan ini selain dikenal sebagai Kemenyan Durame, Kemenyan Bulu, Kemenyan Toba, juga dikenal sebagai Kemenyan Jawa dan Kemenyan Sumatera.
Jenis Kemenyan Durame merupakan tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh di Jawa, Sumatera, dan Bangka Belitung, Pun tersebar di Malaysia, Vietnam, Laos, dan Thailand. Kemenyan Bulu dan Kemenyan Toba tumbuh di Sumatera dan Malaysia.

BACA JUGA :  Idul Fitri Manifestasi Merdeka Dari Nafsu Budaya Aksesoris Lebaran
Foto: Ist

Manfaat tanaman Kemenyan yang telah dikenal sejak ribuan tahun silam adalah resin atau getahnya. Getah Kemenyan ini telah digunakan sebagai bahan obat sejak abad ke 14. Getah ini mengandung asam sinamat, asam benzoate, styrol, styracin, vanillin, coniferil sinamat, coniferil benzoate dan suatu resin yang mengandung benzoresinol dan sumaresinotannol. Resin atau getah Kemenyan digunakan juga sebagai perlengkapan ritual-ritual tradisional, yakni sebagai dupa, sesajen, dan campuran rokok. Kemenyan juga dimanfaatkan sebagai aroma parfum, aroma terapi, bahan pengawet, dan bahan campuran kosmetik.

Selain dihasilkan oleh getah pohon dari genus Styrax, Kemenyan juga menjadi sebutan bagi getah sejenis yang dihasilkan oleh pohon dari famili Burseraceae, utamanya anggota genus Boswellia. Kemenyan jenis ini biasanya disebut Kemenyan Arab.

Barus yang sejak awal abad ke 5 sudah disinggahi oleh perahu-perahu layar antar benua sebagai pelabuhan pengekspor Kemenyan dan Kamper (Kapur Barus). Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya Kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem.

BACA JUGA :  Bukan Saja Dari Sisi Layanan Kesehatan, RSUD NTB Juga Diharapkan Menjadi Pelayanan Informasi Kepada Publik

Bahkan, Cina dan India sejak abad pertama telah membawa Kapur Barus dan Kemenyan dari Tapanuli. Kegunaannya adalah untuk bahan pengawet Mummi para raja di Romawi dan Firaun di Mesir.

Menurut catatan sejarah, salah satu pusat perdagangan Kemenyan di wilayah ini pada masa lampau adalah pantai Barus, sebuah pelabuhan penting ketika itu di pantai barat pulau Sumatra.

Disebutkan pada masa itu hingga beberapa abad kemudian, Kemenyan dan Kapur Barus asal Tapanuli ini tergolong barang mahal yang nilainya lebih tinggi dari pada emas. (Sumber Wikipedia.red)

Di berbagai daerah penyebutannya berbeda yaitu Kemenjen dalam bahasa Pakpak Dairi, Keminjen dalam bahasa Karo dan Menyan dalam bahasa Jawa.

Foto: Ist

Di Pulau Sumatera Pohon Kemenyan dapat di temukan di wilayah (dahulu) Tapanuli, sekarang telah berganti nama menjadi Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Di Tapanuli Utara Kemenyan yang lajim disebut ‘Haminjon’ dapat kita temui di daerah Dolok Sanggul (sekarang Humbang Hasundutan), Garoga sekitarnya dan Pahae (Pahae Julu dan Pahae Jae).

BACA JUGA :  Perkembangan Pembinaan Terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan Melalui SPPN dan Asesmen

Konon menurut cerita beberapa warga Pahae menyebutkan, dahulu hingga tahun 80 an Kemenyan merupakan salah satu sumber perekonomian bagi masyarakat Pahae pada umumnya selain karet, padi, kopi dan palawija. Namun belakangan ini, Kemenyan menjadi tertinggal akibat berbagai faktor seperti, peralihan pilihan budidaya tanaman yang saat ini didominasi budidaya coklat dan tanaman padi yang dahulu panen hanya sekali setahun kini telah berubah menjadi tiga kali setahun dengan hadirnya padi jenis Ramos yang dapat dipanen dalam waktu seratus hari, disamping akibat perubahan pola perilaku masyarakat, terlebih akibat harga jual getah Kemenyaan yang belakangan kian hari makin anjlok, membuat Kemenyan dan karet menjadi alternatif.

Akibat adanya peralihan tersebut budidaya Pohon Kemenyan menjadi tertinggal serta dikhawatirkan akan berdampak pada punahnya Pohon Kemenyaan tersebut. (Pan)