Daerah

PG Blora Terancam Mandek, Mesin Rusak Bikin Produksi Gula 2025 Anjlok

46
×

PG Blora Terancam Mandek, Mesin Rusak Bikin Produksi Gula 2025 Anjlok

Sebarkan artikel ini

NASIONALXPOS.CO.ID, BLORA – Pabrik Gula (PG) Blora yang berlokasi di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora menghadapi tantangan serius setelah sejumlah mesin utama mengalami kerusakan pada musim giling 2025. Kondisi tersebut berdampak pada turunnya produksi gula sekaligus mengancam keberlangsungan aktivitas industri yang menjadi penopang ekonomi ratusan petani tebu di wilayah tersebut.

Pabrik yang dikelola PT Gendhis Multi Manis (GMM) ini sejak beroperasi pada 2014 menjadi salah satu pusat pengolahan tebu di Kabupaten Blora. Kehadirannya memberikan peluang bagi para petani untuk mengembangkan komoditas tebu sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi daerah.

Pada musim giling 2025, manajemen PT GMM sebenarnya menargetkan dapat menggiling tebu hingga 400.000 ton dengan rendemen mencapai 7 persen selama masa giling 150 hari. Namun target tersebut tidak tercapai akibat kerusakan pada sejumlah mesin vital pabrik.

Tercatat, sepanjang musim giling 2025 PT GMM hanya mampu menggiling 219.774 ton tebu dengan rendemen 6,03 persen, yang menghasilkan sekitar 12.138 ton Gula Kristal Putih (GKP). Penurunan produksi ini terjadi karena sebagian kandungan gula dalam tebu tidak dapat diolah secara maksimal akibat gangguan pada mesin.

Kerusakan terjadi pada mesin boiler coal dan boiler bagasse yang mengalami gangguan secara bersamaan pada Mei dan Juni 2025. Meski sempat diperbaiki, masalah kembali muncul pada September 2025.

Akibat kondisi tersebut, manajemen akhirnya memutuskan menghentikan proses giling lebih awal pada 24 September 2025 untuk mencegah kerusakan yang lebih parah pada sistem pabrik.

Diketahui, kerusakan boiler dipicu oleh kebocoran pipa pada bagasse boiler dan coal boiler yang menyebabkan nilai conductivity air boiler menurun drastis, sehingga proses produksi tidak dapat berjalan optimal.

Penghentian giling lebih awal tentu menimbulkan dampak bagi para petani tebu. Sebagian hasil panen mereka bahkan belum sempat ditebang dan diproses di pabrik.

Sebagai bentuk tanggung jawab, manajemen PT GMM mengambil langkah cepat dengan mengalihkan penggilingan tebu petani ke pabrik gula lain yang masih beroperasi, seperti PG Lamongan milik PT Kebun Tebu Mas dan PG Trangkil milik PT Kebon Agung.

Selain itu, PT GMM juga memberikan fasilitas gratis crane dan jembatan timbang untuk membantu petani melakukan proses langsiran tebu dari truk kecil ke truk tronton sebelum dikirim ke pabrik lain.

Dengan hasil produksi yang menurun pada 2025, manajemen kini tengah menyusun strategi pemulihan operasional pabrik. Fokus utama diarahkan pada perbaikan menyeluruh terhadap mesin-mesin pabrik yang mengalami kerusakan.

Namun rencana perbaikan tersebut belum dapat langsung dilaksanakan karena kondisi keuangan perusahaan yang masih mengalami defisit.

Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan para pemegang saham untuk mendapatkan dukungan perbaikan mesin.

“Saat ini PT GMM sudah melakukan komunikasi dengan Perum BULOG dan PT Mandiri Pangan Sejahtera untuk meminta bantuan dalam perbaikan mesin,” ujarnya.

Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Blora, APTRI, serta Serikat Pekerja GMM yang ikut membantu proses komunikasi dengan pemegang saham.

Direktur Operasional PT GMM, Krisna Murtiyanto, menambahkan bahwa sebelumnya telah dilakukan audiensi dengan Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani di Kantor Perum BULOG Jakarta pada 21 Januari 2026.

Audiensi tersebut dihadiri oleh Bupati Blora, Wakil Bupati, Ketua DPRD Blora, pengurus APTRI, Serikat Pekerja GMM, serta jajaran direksi PT GMM.

“Kami mendapat respons positif terkait rencana perbaikan GMM tahun ini, namun persetujuan bantuan tersebut masih dalam proses,” jelas Krisna.

Manajemen berharap PG Blora dapat kembali beroperasi pada musim giling 2026, mengingat keberadaan pabrik ini memiliki peran besar dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.

Setidaknya terdapat lebih dari 250 petani tebu, 600 karyawan, lebih dari 1.000 tenaga tebang angkut, serta sopir truk yang menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas pabrik tersebut.

Selain itu, berbagai usaha kecil seperti warung makan, toko kelontong, hingga jasa transportasi di sekitar kawasan pabrik juga ikut terdampak ketika operasional pabrik berhenti.

“Kita harus tetap optimistis. Kami akan terus mencari solusi terbaik agar bantuan segera diberikan sehingga pabrik bisa kembali beroperasi,” ungkap Krisna.

Sementara itu, Plt Direktur Utama PT GMM Sri Emilia Mudiyanti turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan untuk keberlangsungan pabrik gula tersebut.

“Kami dari Direksi PT GMM mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Blora, Ketua DPRD Blora, APTRI, Serikat Pekerja GMM, dan seluruh masyarakat yang terus membantu. Kita harus bergandeng tangan untuk menghidupkan kembali pabrik gula kebanggaan masyarakat Blora ini,” pungkasnya. (Riyan)

Tinggalkan Balasan