Ia juga menekankan bahwa pemerintah daerah tidak sekadar menawarkan janji, melainkan membangun kesadaran bersama bahwa pembangunan berkelanjutan lahir dari rasa memiliki.
“Hubungan harus dirawat. Bukan hanya mengandalkan anggaran, tetapi juga kepercayaan dan keterhubungan,” pungkasnya.
Sementara itu, tokoh WBC Batam Darmanto, yang juga Manager PT BME, menyebut silaturahmi tersebut sebagai penguat identitas warga Blora di perantauan.
“Yang kami rindukan bukan hanya kampung halaman, tetapi juga perhatian. Pertemuan ini memberi pesan bahwa kami tidak dilupakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak warga Blora di Batam siap berkontribusi lebih nyata.
“Kami punya jejaring, pengalaman, dan kapasitas. Jika pemerintah membuka ruang komunikasi berkelanjutan, kami siap ikut berperan membangun Blora, bukan sekadar menjadi penonton,” katanya.
Silaturahmi ini menjadi penanda bahwa jarak geografis tidak memutus ikatan emosional, dan perantau tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Blora ke depan. (Riyan)












