by

Tadarus Kewarasan Hidup Hadapi Tantangan Era Digital Multidimensi

-Opini-117 views

Oleh: Andi Irawan Ketua Bawaslu Kab. Tangerang

Menandai pentingnya kajian era digital multidimensi pada kesempatan 21 Ramadhan 1442 H / 3 Mei 2021 bertepatan dengan hari Kebebasan Pers Sedunia yang mengambil tema: “Information as a Public Good”, Informasi Sebagai Barang Publik. Penulis mencoba mengaitkan dengan agenda tadarus & buka bersama Ramadhan 1442 H yang diselenggarakan Bawaslu Kab. Tangerang bersama Pimpinan Bawaslu Provinsi Banten beserta semua jajaran sekretariat dan pegawai. Memaknai perkembangan era digital multidimensi, konteks tantangan dan realita arus besar kepentingan global.

Mentadarusi bacaan perkembangan global teknologi semakin mendapatkan ruang eksplorasi progresif, seirama pesatnya arus besar kebebasan pergaulan multidimensi dunia secara global. Paradigma umum keterkaitan umat manusia di muka bumi semakin tak terelakkan satu sama lain saling berkontribusi, mempengaruhi, dan menentukan kearifan kesaling ketergantungan dalam mempertahankan identitas kepentingan multinasional masing-masing interkoneksitas.

Pembacaan tantangan era digital multidimensi masih minimalis bahkan belum terintegrasi secara dinamis. Kondisi tantangan yang dirasakan baik personal maupun interpersonal belum terintegrasikan oleh konsep kesatuan nilai-nilai prinsip, pandangan identitas bingkai pluralitas. Kondisi centang perenangnya kebersamaan dalam lingkup multidimensi kemajemukan yang sangat plural memang bukan persoalan yang mudah dihadapi.

Persatuan dan kekuatan yang dimiliki suatu komunitas besar yang bernama bangsa maupun suatu negara, pada dasarnya masih berproses dan terus menuju untuk menjadi kokoh, ini disebabkan karena pada setiap bangsa dan negara belum memiliki daya pertahanan yang kuat secara menyeluruh. Sehingga tak terhindari potensi krisis horizontal terjadi dalam suatu tatanan berbangsa. Krisis multidimensi memasuki babak baru di era digital yang semakin kompleks. Tentu tak bisa terlepas dari koneksitas sebab utama yakni dasar keyakinan yang bersifat multidimensi dianut oleh suatu masyarakat secara luas. Fenomena Keyakinan global yang deras masuk bebas dan menjamur melalui perkembangan tekhnologi Internet juga semakin meluas, dipersepsikan oleh versi citra berbagai media sosial yang digunakan secara masif.

Gejala pemahaman global berupa keyakinan spiritual yang datang melalui penyebaran teknologi mengindikasikan adanya kegamangan semua elit bangsa dalam menghadapi kerumitan, arus besar ditengah persoalan multidimensi lokal yang sudah ada. Elit dan para tokoh bangsa sering memperdebatkan sebab musabab teologi maut yang dilabeli dengan terorisme telah dianut segelintir kelompok masyarakat. Menjadi kecemasan nasional bangsa yang sampai saat ini belum juga mereda di negeri ini. Imbasnya banyak tuduhan bermuara pada sentimen identitas keyakinan mayoritas menimbulkan kecurigaan, tersematkan sebagai potensi lahirnya penganut teologi maut sebagai impor spiritualisme berasal dari idiologi multidimensi transnasional tersebut. Dimensi tantangan dan relasi kebangsaan membina hidup bersama dalam ikatan keyakinan multidimensi, tentu perlu ada upaya pendekatan dari negara serta komponen bangsa yang serius dan terencana.

Bahwasanya kaitan dengan tadarus kajian yang diselenggarakan oleh Bawaslu kab.Tangerang, adalah dalam rangka memaknai Bawaslu sebagai salah satu pranata sosial lembaga negara non struktural yang memiliki peran strategis dalam konteks memelihara kewarasan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara menghadapi tantangan kepemiluan era digital multidimensi. Setelah dibuka oleh N. Abdurrosyid Siddiq, S.Ag (div.organisasi) kegiatan tadarus dan buka bersama, beliau mengingatkan pentingnya merawat kebersamaan melalui kesadaran berbagi antar sesama, kesadaran membayar zakat dan budaya saling memaafkan sesama kita.

Selanjutnya pendekatan sosial yang dibangun guna melaksanakan tugas dan peran Bawaslu dalam pengawasan, pencegahan dan penindakan pelanggaran pemilu menurut Badrul Munir, S.Ag., SH., MH. Anggota Bawaslu Provinsi Provinsi Banten. Mengatakan ada dua pendekatan untuk membina dan merawat kesadaran masyarakat dalam konteks berbangsa dan bernegara menjaga Kerukunan tidak mudah dipengaruhi serta diprovokasi oleh kepentingan sentimen konflik horizontal.

Pertama adalah pendekatan Non hukum, seperti membuka pelatihan umum kepemiluan yang berintegritas mencegah kecurangan dan pelanggaran pemilu. Kedua melalui pendekatan hukum, seperti membuka pelatihan keterampilan litigasi hukum kepemiluan (menangani sengketa pemilu, beracara di MK dll). Kegiatan diakhiri dengan membangun semangat dan komitmen bersama dalam menjaga kewarasan dalam menghadapi tantangan hidup berbangsa dan bernegara di era multidimensi. Wallahu A’lam Bishawab.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed