Daerah

Barongan Blora Menuju UNESCO, Kementerian Kebudayaan Siap Kawal Pengakuan Dunia

1
×

Barongan Blora Menuju UNESCO, Kementerian Kebudayaan Siap Kawal Pengakuan Dunia

Sebarkan artikel ini
IMG 20261105 WA01571
Jajaran Kementerian Kebudayaan RI menerima audiensi Pemerintah Kabupaten Blora bersama para seniman untuk membahas pengusulan Barongan Blora sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO melalui skema perluasan Reog Ponorogo, Kamis (5/11/2026).

NASIONALXPOS.CO.ID, JAKARTA – Kesenian tradisional Barongan Blora mendapat lampu hijau dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO melalui skema perluasan (USL Extension) Reog Ponorogo.

Dukungan pemerintah pusat tersebut menjadi angin segar bagi para seniman dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora dalam memperjuangkan pengakuan internasional sekaligus menyelamatkan kesenian tradisional yang mulai terancam kehilangan regenerasi.

Advertisement
file 00000000f95871fa8381970073c004f3
Scroll kebawah untuk lihat berita lainnya.

Komitmen itu disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Undri, S.S., M.Si., saat menerima audiensi Pemkab Blora di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Undri menyatakan kementeriannya siap memfasilitasi dan mengawal proses pengusulan Barongan Blora hingga tahap pendaftaran ke UNESCO.

Menurutnya, terdapat dua pilihan target pengajuan, yakni 2027 atau 2028. Penentuan waktu akan disesuaikan dengan kesiapan dokumen, hasil penelitian, serta kelengkapan persyaratan administrasi.

“Kami berkomitmen untuk memfasilitasi. Tinggal bagaimana target dari pihak Pemkab menghendaki di 2027 atau di 2028. Tahapan pengusulannya akan kita sampaikan. Senimannya juga hadir. Tadi juga telah disampaikan bahwa Ponorogo tidak keberatan dan setuju,” ujar Undri.

Ia menjelaskan, sejumlah persiapan telah dilakukan sejak Agustus melalui pendampingan tim asistensi UNESCO. Tahapan berikutnya adalah mematangkan dokumen pengusulan (dossier), melengkapi film dokumenter, serta memenuhi persyaratan administrasi sesuai standar UNESCO.

Undri juga menilai pengusulan melalui jalur perluasan berpotensi menjadi pola baru bagi daerah lain dalam memperjuangkan pengakuan warisan budaya takbenda.

Sementara itu, Harry Waluyo, Fasilitator ICH Asia Pacific, menjelaskan bahwa pengakuan UNESCO dapat ditempuh melalui dua jalur, yakni pengusulan mandiri atau perluasan dari warisan budaya yang telah terdaftar.

Menurutnya, jalur perluasan dinilai lebih memungkinkan karena Barongan Blora memiliki rumpun seni budaya yang berkaitan dengan Reog Ponorogo.

Namun, ia menegaskan bahwa Barongan Blora bukan bagian dari Reog Ponorogo, melainkan memiliki karakter, identitas, dan kekhasan daerah tersendiri.

“Jika mengusulkan mandiri, tahapannya lebih panjang dan kompleks. Namun, melalui jalur extension atau perluasan, prosesnya lebih memungkinkan karena seni budayanya serumpun dengan Reog. Bukan berarti Barongan bagian dari Reog, tetapi berhimpun dengan karakter khas daerah masing-masing,” jelas Harry.

Di sisi lain, hasil penelitian tim asistensi mengungkapkan bahwa Barongan Blora membutuhkan perhatian serius agar tidak terancam punah.

Damardjati Kun Marjanto, tim asistensi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyebutkan bahwa meskipun seluruh kecamatan di Blora memiliki paguyuban kesenian, eksistensi Barongan belum merata.

Bahkan, tim peneliti menemukan sejumlah topeng Barongan yang mulai rusak karena lama tidak digunakan untuk pertunjukan. Persoalan regenerasi juga menjadi tantangan karena para sesepuh kesulitan mencari generasi muda penerus kesenian tersebut.

Atas kondisi itu, Barongan Blora dinilai berpeluang masuk dalam kategori List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding, yakni daftar warisan budaya takbenda yang membutuhkan perlindungan mendesak.

Melalui jalur tersebut, komunitas dan negara dapat memperoleh dukungan internasional untuk memperkuat upaya pelestarian budaya yang terancam keberlangsungannya.

Sejarah dan karakteristik Barongan Blora dalam audiensi tersebut turut dipaparkan Dr. Muksin, S.Sn., M.Sn., Guru Besar Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Mewakili rombongan Pemkab Blora, Plt. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Blora, Drs. Heru Eko Wiyono, M.Si., menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Kebudayaan.

IMG 20261105 WA01561

Ia mengatakan, Pemkab Blora akan mendiskusikan lebih lanjut bersama tim dan Bupati Blora untuk menentukan target pengajuan terbaik, apakah pada 2027 atau 2028.

“Dengan adanya restu dari Kementerian Kebudayaan, kami semakin mantap untuk melangkah melanjutkan tahapan pendaftaran Barongan Blora ke dalam UNESCO,” ungkap Heru.

Audiensi tersebut turut dihadiri jajaran perangkat daerah Pemkab Blora, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Blora, serta Ketua Paguyuban Barongan Kabupaten Blora.

Dukungan pemerintah pusat ini menjadi momentum penting bagi Barongan Blora. Bukan sekadar mengejar pengakuan dunia, tetapi juga memastikan kesenian rakyat tersebut tetap hidup, diwariskan kepada generasi muda, dan tidak hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan