NASIONALXPOS.CO.ID, KABUPATEN LEBAK — Sebanyak 50 siswa dan 10 guru serta staf SMAN 2 Rangkasbitung antusias mengikuti edukasi literasi Artificial Intelligence (AI) yang digelar Relawan TIK Provinsi Banten bersama Indonesia Median Foundation (IMF), Jumat (30/10/2026).
Kegiatan bertajuk KOMPAS (Kritis, Online, Mandiri, Positif, Aman, Santun) Seri Ke-4 tersebut tidak hanya mengajarkan cara memanfaatkan kecerdasan buatan, tetapi juga membekali peserta agar mampu mengenali hoaks, memahami risiko AI, serta melindungi data pribadi di ruang digital.
Ketua Relawan TIK Provinsi Banten, Ahmad Taufiq Jamaludin, menjelaskan bahwa kecakapan menggunakan AI harus diimbangi dengan pemahaman etika dan risiko penggunaannya.
Ia mengingatkan empat risiko utama AI, yakni penyalahgunaan untuk menyebarkan hoaks, bias data dan hasil, pelanggaran privasi serta keamanan data, hingga dampak terhadap ketersediaan sumber daya air bersih.
Menurut Taufiq, masyarakat juga perlu memiliki kemampuan membedakan konten buatan AI dengan konten asli. Hal itu dapat dilakukan dengan memperhatikan sejumlah kejanggalan, seperti bentuk tubuh yang tidak normal, pakaian, gerakan, hingga visual yang terlihat terlalu sempurna.
Suasana kegiatan semakin interaktif ketika peserta diajak mengikuti permainan menebak gambar dan video yang dihasilkan AI. Para siswa berlomba menyampaikan alasan untuk menentukan apakah konten yang ditampilkan merupakan hasil kecerdasan buatan atau bukan.
Pada sesi berikutnya, Direktur Indonesia Median Foundation, Yulia Pratami atau akrab disapa Tami, mengingatkan bahwa jawaban AI tidak selalu benar meskipun disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.
Ia menjelaskan tiga kelemahan AI yang perlu diwaspadai, yaitu halusinasi atau kecenderungan mengarang fakta, bias akibat data pelatihan, serta keterbatasan memahami konteks lokal, bahasa daerah, dan peristiwa terbaru.
Tami mengajak para siswa menggunakan AI sebagai alat pemberdayaan, bukan sebagai sesuatu yang membuat penggunanya bergantung.
Ia juga membagikan sejumlah prinsip penggunaan AI secara sehat, mulai dari berpikir sebelum bertanya kepada AI, memeriksa kembali jawaban melalui buku, guru, atau sumber resmi, hingga membatasi waktu penggunaan layar.
Dalam aspek etika, peserta diingatkan untuk tidak membuat deepfake atau stiker wajah teman tanpa izin, jujur menyampaikan penggunaan AI dalam tugas, serta memanfaatkan teknologi untuk membantu sesama dan bukan melakukan perundungan.

Apresiasi juga disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMAN 2 Rangkasbitung, Eneng Kustiawati. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran tim narasumber dan berharap edukasi serupa dapat kembali dilaksanakan untuk meningkatkan kecakapan digital guru maupun siswa.
Kegiatan ditutup dengan praktik membuat konten menggunakan Gemini atau ChatGPT. Peserta ditantang menghasilkan infografis pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) atau materi promosi produk makanan dan minuman.
Salah satu peserta yang terpilih dengan hasil karya menarik dan lengkap adalah Abraham Aufa Nugraha. Ia mendapatkan hadiah berupa saldo GoPay dan mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut.
Program KOMPAS merupakan inisiatif Indonesia Median Foundation yang bekerja sama dengan Relawan TIK Indonesia. Memasuki seri keempat, program edukasi ini akan terus digalakkan di wilayah Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat untuk membangun generasi yang kritis, cakap, aman, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi digital.















