by

Maraknya Aksi Demo Cipta Kerja, Kotikam Yogyakarta Beroposisi Jangan Anarkis

-Daerah-532 views

NASIONALXPOS.CO.ID, YOGYAKARTA – Ormas Korps Inti Keamanan (Kotikam) Yogyakarta turut gerah dengan peristiwa demonstrasi massa beberapa waktu lalu yang ujungnya membuat kawasan Yogya dilanda rusuh.

Seperti kasus aksi demo besar 8 Oktober 2020 dari berbagai elemen di DPRD DIY di Jalan Malioboro untuk menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Aksi itu diwarnai bentrok dengan kepolisian, merusak fasiltas negara, mengganggu pedagang kaki lima, membuat terbakarnya sebuah cafe hingga membuat jalan Malioboro lumpuh total sejak siang hingga petang.

Khawatir aksi serupa terjadi lagi, Kotikam Yogyakarta lalu bergerak mengantisipasi. Sejumlah banner dipasang di berbagai titik kota untuk memberi peringatan agar tak seorang pun boleh lagi berbuat onar atas nama apapun di Yogyakarta yang sejatinya damai dan aman-aman saja.

Kotikam pun menyerukan agar apapun aksi protes yang diserukan tetap menjaga kesantunan dan tidak anarkis.

“Silahkan saja kalau mau ber-oposisi. Silahkan kalau mau mengkritik pemerintah. Tapi lakukan dengan cara yang benar, biar rakyat juga bisa mendapat pembelajaran dari proses demokrasi itu,” ujar panglima tertinggi Kotikam Yogyakarta Diva Anita Kintoko ditemui Kamis (5 /11/2020).

Baca juga: Tolak UU Ciptaker, Massa Buruh dan Polisi Bentrok

Tak sekedar banner. Saat ini Kotikam juga mempersiapkan video sebagai aksi mengkampanyekan menjaga Jogja damai selalu.

Anita mengungkapkan Kotikam sebagai organisasi yang selama ini bergerak di bidang sosial kemasyarakatan juga tengah mempersiapkan video untuk berusa mengkampanyekan suasana perdamaian di Yogya. Meski kadang tensi politik di berbagai daerah khususnya pemerintah pusat sedang memanas.

Upaya menjaga Yogya damai ini tak lepas dari kesejarahan Kotikam sendiri yang didirikan ayah Anita, Raden Imam Kintoko pada tanggal 24 April 1976.

Sebelum terbentuknya organisasi ini, Sri Sultan HB IX kala itu meminta Imam Kintoko agar dapat membuat wadah atau organisasi untuk meredam aksi premanisme yang di tahun itu terbilang sangat marak. Lalu lahirlah Kotikam itu dan aksi premanisme jalanan di Yogya bisa mulai mereda.

Namun di tahun 1988 organisasi ini sempat menghilang gerakannya karena suatu hal. Baru kemudian pada 2011 silam, para sesepuh yang pernah menjadi anggota Kotikam di masa kepemimpinan Imam Kintoko meminta Anita sebagai keturunan Imam Kintoko untuk menghidupkan dan memimpin lagi organisasi itu hingga sekarang.

Untuk Yogyakarta sendiri anggota aktif Kotikam ada 742 orang sedangkan jika digabung dengan Jawa Tengah totalnya ada 1240 orang.

Organisasi ini menyatakan bersikap netral dan tidak terafiliasi dengan gerakan partai politik apapun,”Insyaalah sampai saat ini netral dan bukan bagian dari partai politik apapun,” pungkas Anita.

(Red).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed