Pendidikan

Dugaan Pelecehan Siswi MIN 1 Kebumen, Orang Tua Kecewa Penanganan Sekolah Dinilai Lamban

0
×

Dugaan Pelecehan Siswi MIN 1 Kebumen, Orang Tua Kecewa Penanganan Sekolah Dinilai Lamban

Sebarkan artikel ini
IMG 20261014 WA00471
Tampak depan MIN 1 Kebumen, Jawa Tengah, lokasi sekolah tempat seorang siswi kelas II dilaporkan mengalami dugaan pelecehan dan kekerasan. Orang tua korban mempertanyakan tindak lanjut pihak sekolah atas laporan yang telah disampaikan

NASIONALXPOS.CO.ID, KEBUMEN – Dugaan pelecehan dan kekerasan terhadap seorang siswi kelas II D MIN 1 Kebumen menjadi sorotan setelah keluarga korban mempertanyakan efektivitas penanganan laporan oleh pihak sekolah. Orang tua korban, Raden, menyebut anaknya diduga mengalami tindakan berupa celananya dipelorotkan pada sekitar 8 atau 9 September 2026. Pada 14 Oktober 2026, anak tersebut kembali disebut mengalami kekerasan berupa tendangan.

Raden mengaku geram karena persoalan yang menyangkut keselamatan anak itu dinilai belum tuntas. Ia mengatakan istrinya telah berupaya menyampaikan persoalan tersebut melalui lingkungan sekolah, sementara keluarga berharap ada penanganan yang jelas dan langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Advertisement
file 00000000f95871fa8381970073c004f3
Scroll kebawah untuk lihat berita lainnya.

Istri Raden menjelaskan bahwa dirinya belum pernah bertemu langsung dengan kepala sekolah maupun guru untuk menyampaikan laporan secara pribadi. Saat mengetahui kejadian awal, ia meminta anaknya yang lebih besar menemui guru agar laporan segera diterima dan ditindaklanjuti.

Menurut keterangannya, sekolah kemudian memanggil anak-anak yang berkaitan dengan kejadian tersebut ke ruang guru untuk dimintai keterangan. Pemanggilan itu disebut melibatkan siswi yang bersangkutan dan dua anak laki-laki. Namun, keluarga masih berharap ada kejelasan mengenai hasil penanganan dan langkah perlindungan setelah pemeriksaan awal tersebut.

Kekecewaan juga muncul dalam komunikasi ant wali murid. Istri Raden menuturkan, sejumlah wali murid merasa resah dan mengharapkan adanya pertemuan dengan kepala sekolah untuk membahas persoalan tersebut. Mereka berharap pihak sekolah dapat mengambil langkah langsung, termasuk memfasilitasi komunikasi dengan orang tua anak yang diduga terlibat.

Namun, menurut penuturannya, ibu dari anak yang disebut berkaitan dengan dugaan pelecehan tidak hadir dalam pertemuan yang diharapkan. Rencana sejumlah wali murid untuk menemui kepala sekolah juga disebut tidak berjalan sesuai harapan, sehingga keluarga merasa persoalan itu belum memperoleh penyelesaian yang memadai.

Situasi ini memunculkan sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab secara terbuka: bagaimana hasil pemeriksaan awal pihak sekolah, langkah apa yang telah dilakukan untuk melindungi siswi, serta apakah sekolah telah melakukan pemantauan untuk mencegah dugaan kekerasan berulang?

Dalam perkara yang menyangkut keselamatan peserta didik, pemanggilan dan permintaan keterangan merupakan bagian dari penanganan awal. Sekolah juga perlu memastikan adanya tindak lanjut yang terukur, dokumentasi laporan, komunikasi dengan orang tua, serta perlindungan terhadap anak yang diduga menjadi korban.

Hingga berita ini disusun, keterangan resmi kepala sekolah dan komite mengenai laporan awal, hasil pemeriksaan, serta dugaan kejadian pada 14 Oktober 2026 belum diperoleh.

Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi pihak sekolah, komite, serta orang tua pihak yang disebut berkaitan dengan kejadian ini. Seluruh dugaan masih perlu diverifikasi melalui keterangan para pihak dan bukti pendukung. Prioritas utama adalah memastikan keselamatan anak, melindungi identitasnya, dan mengungkap fakta secara objektif agar persoalan serupa tidak terulang.

Tinggalkan Balasan