Puja mengaku, penanganan sampah di Kabupaten Badung belum maksimal, sistem penanganan sampah di Badung di tiap desa melalui TPS3R, sebagian dibuang ke TPA Suwung, Denpasar. Tetapi penanganan sampah belum mampu dilakukan secara tuntas, karena produksi sampah tergolong tinggi.
“Kami sempat melakukan studi penanganan sampah ke sejumlah negara seperti ke Jepang dan lainnya. Badung ke depan memerlukan teknologi penanganan sampah berkapasitas tinggi seperti di Jepang. Sehingga produksi sampah mampu diselesaikan,” jelasnya.
AdvertisementScroll kebawah untuk lihat berita lainnya.
Di tempat yang sama, ketua sementara DPRD Badung, Putu Parwata usai menerima delegasi K-Eco Korsel juga menyampakan terkait kedatangan para delegasi K-Eco Korsel yang berjumlah 6 orang itu.
“Hari ini adalah satu kunjungan balasan dari surat undangannya dari korea dari K-Eco. K-Eco ini adalah perusahaan BUMN yang membuat regulasi tentang penanganann sampah. Jadi kita melihat di korea itu minus sampah, Jadi beberapa perusahaan yang menangani sampah sampai kekurangan sampah karena kita lihat regulasinya adalah botton up jadi dari penghasil sampah umum, rumah tangga , industri, dan destinasi-destinasinya clear semuanya. karena itulah kita berkunjung ke korsel sehingga mereka melakukan kunjungan balasan,” jelasnya.














