Daerah

Pelatihan Batik Kontemporer PKW Cetak 34 Wirausaha Muda Jambi

11
×

Pelatihan Batik Kontemporer PKW Cetak 34 Wirausaha Muda Jambi

Sebarkan artikel ini
IMG 20260728 WA0038
Ketua Dekranasda Provinsi Jambi, Hj. Hesnidar Haris, S.E. (Hesti Haris), mengamati sekaligus mengapresiasi hasil karya batik kontemporer yang dibuat peserta Pelatihan Batik Kontemporer Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) di Balai Kerajinan Rakyat Selaras Pinang Masak, Kota Jambi, Senin (27/7/2026).

NASIONALXPOS.CO.ID, JAMBI – Ketua Dekranasda Provinsi Jambi, Hj. Hesnidar Haris, S.E. atau Hesti Haris, mendorong lahirnya generasi wirausaha muda melalui Pelatihan Batik Kontemporer Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) yang berlangsung di Balai Kerajinan Rakyat Selaras Pinang Masak, Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi, Senin (27/7/2026).

Pelatihan yang merupakan hasil kerja sama Direktorat Kursus dan Pelatihan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan Dekranasda Provinsi Jambi tersebut digelar sejak Juni hingga Agustus 2026.

Advertisement
file 00000000f95871fa8381970073c004f3
Scroll kebawah untuk lihat berita lainnya.

Dalam sambutannya, Hesti Haris mengapresiasi semangat para peserta yang telah mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh. Ia mengaku bangga karena dalam waktu lebih dari satu bulan, para peserta telah mampu menghasilkan karya batik kontemporer yang dinilai berkualitas dan memiliki nilai jual.

“Alhamdulillah, dalam waktu yang relatif singkat para peserta telah mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa generasi muda Jambi memiliki potensi besar untuk berkarya dan mengembangkan industri kreatif berbasis budaya,” ujarnya.

Sebanyak 34 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Menurut Hesti, program PKW tidak hanya memberikan keterampilan membatik, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan berwirausaha agar mampu membuka usaha secara mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Ia juga mengungkapkan, seluruh hasil karya peserta akan dipromosikan melalui berbagai kegiatan Dekranasda Provinsi Jambi, termasuk dalam peragaan busana (fashion show) sebagai upaya memperkenalkan batik kontemporer khas Jambi kepada masyarakat yang lebih luas.

“Karya-karya ini akan kami tampilkan dalam berbagai kesempatan. Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa anak-anak muda Jambi mampu menghasilkan batik kontemporer yang kreatif, berkualitas, dan memiliki daya saing,” katanya.

Menurut Hesti, batik kontemporer memiliki keunikan tersendiri karena setiap karya lahir dari kreativitas pembuatnya sehingga menghasilkan motif dan karakter yang berbeda. Meski mengusung sentuhan modern, batik kontemporer tetap mempertahankan identitas budaya Indonesia.

“Inovasi harus terus dilakukan. Batik kontemporer tetap berakar pada budaya Indonesia, namun tampil lebih modern sehingga mampu mengikuti perkembangan selera pasar,” tambahnya.

Hesti juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Dekranas Pusat atas dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Ia berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi generasi muda, khususnya mereka yang belum melanjutkan pendidikan formal.

Lebih lanjut, Hesti mengingatkan para peserta agar selalu menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Menurutnya, keberhasilan dalam dunia usaha sangat ditentukan oleh mutu produk dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

“Orang membeli bukan karena rasa kasihan, tetapi karena produk yang dihasilkan memang berkualitas. Karena itu teruslah belajar, berinovasi, dan menjaga mutu setiap karya yang dibuat,” pesannya.

Pada kesempatan itu, Hesti juga mengungkapkan bahwa karya para peserta akan dipromosikan dalam rangkaian Syukuran Dekranasda Provinsi Jambi sebagai ajang memperkenalkan wastra, kriya, dan berbagai produk unggulan dari para perajin kabupaten dan kota se-Provinsi Jambi.

Melalui program tersebut, Dekranasda Provinsi Jambi berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan industri kreatif berbasis budaya. Selain meningkatkan daya saing UMKM, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan batik sebagai identitas bangsa.

“Tujuan utama kita adalah meningkatkan ekonomi para pelaku UMKM melalui pengembangan wastra dan kriya daerah. Di sisi lain, kita juga terus mengangkat budaya Indonesia. Batik adalah identitas bangsa yang harus terus kita lestarikan dan banggakan sebagai karya anak negeri,” tutup Hesti Haris. (fa)

Tinggalkan Balasan