NASIONALXPOS.CO.ID, TANGERANG – Majelis Preman Indonesia (MPI) menggelar diskusi publik bertajuk “Kampus Jalanan” sebagai wadah aspirasi bagi kelompok marjinal di Kota Tangerang. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kesenian Kota Tangerang, Sabtu (6/6/2026) malam itu menghadirkan unsur pemerintah, tokoh masyarakat, hingga pembina komunitas jalanan.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Sosial Kota Tangerang Acep Wahyudi, Pendiri Majelis Preman Indonesia Hidayat Shaleh (Gus Dayat), serta Ustadz Fitriyadi, pembina Punk Hidayah.
Dalam sambutannya, Acep Wahyudi menyampaikan bahwa kehadirannya dalam forum tersebut bertujuan untuk membangun komunikasi dan mendengarkan langsung aspirasi komunitas jalanan.
“Kami ingin mengetahui apa yang menjadi keinginan teman-teman di jalanan. Pemerintah tentu memiliki keterbatasan, namun kami berupaya hadir dan memberikan solusi,” ujar Acep.
Ia menjelaskan, Dinas Sosial Kota Tangerang berkomitmen membuka ruang kreativitas bagi anak-anak jalanan melalui kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
“Kami akan bekerja sama untuk memfasilitasi anak-anak jalanan agar dapat berkreasi dan mengembangkan potensi yang mereka miliki,” katanya.
Selain itu, Acep mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 Dinas Sosial Kota Tangerang telah menyiapkan sejumlah program pelatihan keterampilan yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bekal usaha mandiri.
“Ada tiga program pelatihan yang kami siapkan, yaitu pelatihan barista, cukur rambut, dan tata boga. Ini bisa menjadi peluang usaha sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Pendiri Majelis Preman Indonesia, Gus Dayat, menegaskan bahwa Kampus Jalanan merupakan ruang dialog terbuka yang mempertemukan pemerintah dengan komunitas-komunitas jalanan yang selama ini jarang mendapatkan kesempatan menyampaikan aspirasi secara langsung.
Menurutnya, berbagai isu strategis dibahas dalam forum tersebut, mulai dari akses layanan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga peran budaya dan dakwah dalam mendampingi kelompok marjinal.

“Diskusi ini membahas berbagai persoalan yang dihadapi anak jalanan, komunitas punk, hingga komunitas vespa. Kami ingin suara mereka didengar dan menjadi perhatian bersama,” ujar Gus Dayat.
Ia menambahkan, kehadiran Dinas Sosial dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggiran ruang publik.
“Kami mengundang Dinas Sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap suara-suara yang jarang terdengar. Harapannya, dialog seperti ini dapat melahirkan solusi nyata bagi teman-teman jalanan,” pungkasnya. (Red)













